Selasa, 13 April 2010

TYPUS ABDOMINALIS

Anita Oktaviya
04.07.1836

A. DEFINISI
Typus Abdominalis ( demam tipoid, enteric fever ) adalah penyakit infeksi akut biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gajala demam yang terjadi satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.
B. ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Salmonella Typhosa.
Merupakan kuman basil gram negatif, bergerak dengan rambut
getar, tidak berspora. Mempunyai 3 macam antigen yoitu:
1. Antigen 0
Somatik , te3rdiri dan zat komplek lipopoli sakarida.
2. Antigen H
Flagella
3. Antigen Vi
dalam serum penderita terdapat zat anti ( aglutinin ) terhadap ketiga macam antigen tersebut.
C. EPIDEMIOLOGI
Di indonesia bersifat endemik , ditemukan biasanya pada anak berumur 1 tahun keatas.
D. PATOGENESIS
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan . Basil diserap usus halus melalui pembuluh limfe è peredaran darah è organ-organ terutama hati dan limpa è Basil yang tidak hancur berkembang biak pada organ tsb sehingga membesar dan menimbulklan nyeri poda perabaan è Basil. masuk kembali peredaran darah (bakteriemia) è menyebar keseluruh tubuh èterutama kekelenjer limfoid usus halus è menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada permukoan mucosa è perdarahan dan perforasi usus è gejala demam (akibat endotoksin )dan gejala saluran pencernaan (akibat kelainan pada usus)
E. GEJALA KLINIS
Gejala pada anak-anak lebih ringan daripada orang dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 - 20 hari, selama masa inkubasi ada gejala prodromal.
1. Demam
Pada kasus yang khas ,demam 3 minggu remiten. Minggu pertama suhu tubuh terus meningkat setiap hari dan menurun pada pagi hari. dan meningkat lagi disore hari. Minggu kedua terus dalam keadaan demam minggu ketiga suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Napas berbau bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor, jarang disertai tremor , perut kembung, hati dan limpa membesar. nyeri saat perabaan, konstipasi, diare.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran menurun antara apatis sampai samnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.
4. Gejala lain-lainnya
Punggung dan anggota gerak mengalami keseleo, pada minggu pertama demam baradikardi, epistaksis.
F. RELAPS (KAMBUH)
Berlangsung lebih ringan dan sangat singkat terjadi dalam minggu kedua setelah suhu badan kembali normal.
G. KOMPLIKASI
1. Pada Usus Halus
Jarang terjadi, tapi sering fatal yaitu
a. Perdarahan Usus.
Jika perdarahan banyak maka terjadi melena disertai nyeri perut dan tanda renjatan
b. Perforasi Usus
Timbul biasanya pada minggu ketiga terjadi pada bagian distal ileum.
c. Peritonitis.
Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi . ditemukan gejala abdomen yang akut yaitu nyeri perut yang sangat hebat, dinding abdomen yang tegang ( defens musculair ) dan nyeri tekan.
2. Di luar Usus Halus
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis yaitu meningits, kolesistitis, ensefatopati, bronchopneumania ( akibat infeksi sekunder ), dehidrasi dan asidosis.
H. DIAGNOSIS BANDING
Bila terdapat demam lebih 1 minggu dan penyakit belum jelas
bahwa karena typus, maka dipertimbangkan penyakit seperti:
• Paratipoid A,B dan C • TBC
• Malaria • dengue
• Influenza • Pneumonia lobaris
I. PROGNOSIS
Umumnya prognosis pada anak baik asal cepat diobati. Mortalitas yang dirawat 6 %. dapat menjadi kurang baik jika:
a. demam tinggi atau febris kontinue
b. Kesadaran menurun sekali yaitu sopor, koma, atau delirium
c. Keadoab gizi penderita buruk
d. Adanya komplikasi yang berat yaitu dehidrasi dan asidosis, peritonitis, bronchopnemonia.
J. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan yang berguna untuk menyokong diagnosis
a. Pemeriksaan darah tepi
Terdapat gambaran leukopenia limfositisis relatif dan aneosinofilik pada. Permulaan sakit, anemia dan trombositopenia ringan.
b. Pemeriksaan sumsum tulang
Terdapat gambaran hiperaktif RES dengan adanya makrofag, sedangkan sistem eritropoeisis, granulopoesis dn trombopoesis berkurang.
2. Pemeriksaan laboratorium untuk membuat diagnosis
dilakukun pada saat penderita masuk dan setiap minggu berikutnya.
a. Biakan Empedu
Basil ditemukan pada darah pada minggu kedua sakit, kemudian dapat ditemukan pula pada urin dan feses.
b. Pemeriksaan Widal
dasar pemeriksaan yaitu reaksi aglutinasi, positif jika terjadi aglutinasi.
K. PENGOBATAN
a. Isolasi ,desinfeksi pakaian dan ekskretanya
b. Istirahat mutlak 2 minggu sampai suhu normal kembali
c. Diet.
Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh yang banyak mengandung serat, tidak merangsang, dan tidak menimbulkan gas. Bila kesadaran menurun maka diberikan makan cair melalui sonde.
d. Obat-obatan
Obat yang biasa digunakan adalah kloramfenikol dosis tinggi yaitu 100 mg/kgBB/hori diberikan 4 x sehari peroral atau intravena untuk mempersingkat masa perawatan dan mencegah timbul kembali (relaps ). Jika tidak cocok dengan kloramfenikol dapat diberi ampisilin, kotrimoksazol.
Bila terdapat komplikasi maka terapi dilakukan sesuai dengan penyakitnya:
bila terjadi dehidrasi dan asidosis maka diberikan cairan intravena
- bila terdapat bronkhopneumonia harus ditambahkan penisilin.

MANAJEMEN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian

  1. Identitas
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. registerasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan, tanggal MR.
  1. Keluhan Utama
Pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam.
  1. Riwayat Penyakit Dahulu
Apalah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid, apakah tidak pernah, apakah menderita penyakit lainnya.
  1. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam, aneroxia, mual, muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma.
  1. Riwayat Penyakit Keluarga
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit yang lainnya.
  1. Riwayat Psikososial
Psikososial sangat berpengaruh sekali terhdap psikologis pasien dengan timbul gejala-gejala yang dialami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritnya.
  1. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1)  Pola pesepsi dan tatalaksan kesehatan
Perubahan penatalakdanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya.
2)  Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah.
3) Pola aktifitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktifitasnya akibatnya adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
4)       Pola tidur dan aktifitas
Kebiasaam tidur pasien akan erganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur
5)       Pola eliiminasi
Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi referensi bila dehidrasi karena panas ang meninggi, komsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan
6)       Pola reproduksi dan sexual
Pada pila reproduksi dan sexual pada pasien yang telahatau sudah menikah akan terjadi perubahan.
7)       Pola persepsi dan pengetahuan
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup pasien akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
8)       Pola persepsi dan konsep diri
Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
9)       Pola penanggulangan stress
Stress timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
10)     Pola hubungan interpersonal
Adanya kondisi keshatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit
11)     Pola tata nilai dan kepercayaan
Timbulnya stress dalam spiritual pada pasien , maka pasien akan menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.


  1. Pemeriksaan Fisik
1)       Keadaan umum
Biasanya pada pasien thypoid menalami badan lemah, panas, pucat, mual, perut tidak enak, aneroxia.
2)       Kepala dan leher
Kepala tidak ada benjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtivaanomia, mata cowong, muka tidak adema, pucat/bibir kering, lidah kotor, di tepid an tengah merah, fungsi pendengaran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
3)       Dada dan abdomen
Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.
4)       System respirasi
Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping hidung.
5)       System kadiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bias didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.
6)       System integument
Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyaak, akral hangat.
7)       System eliminasi
Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien bias mengalami penurunan (kurang dari normal). N
8)       System muskulolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
9)       System endokrin
Apakah adi dalam penderita thypoid ada pembesaran kelenjar oroid dan tonsil.
10)     Sistem persyarafan
Apakah kesadaran itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita penyakit thypoid.


  1. Diagnosa keperawatan

    1. Peninkatan suhu tubuh berhubungan dengan kurang infeksi Salmonella Typhii
    2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.
    3. Intolensi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.
    4. Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluarancairan yang berlebihan (diare/muntah).

  1. Intervensi dan Implementasi

    1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhii
Tujuan : suhu tunuh normal/terkontrol.
Kriteria hasil : pasien melaporkan peningkatan suhu tubuh
Mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu tubuh.
Turgor kulit membaik
Intervensi :
à      Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh
R/  agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari penningkatan suhu tubuh dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul.
à      Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat
R/  untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membentu mengurangi penguapan suhu.
à      Batasi kunjungan
R/  agar kllien merasa tenang dan udara di dalam ruanfan tidak terasa panas.
à      Observasi TTV tiap 4 jam sekali.
R/  tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan pasien.
à      Anjurkan pasien untuk banyak minum, minun 2,5 liter / 24 jam
R/  peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang benyak
à      Memberikan kompres dingin
R/  untuk membantu menurunkan suhu tubuh
à      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tx antibiotic dan antipiretik
R/  antibiotic untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk mengurangi panas.

2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhuan berhubungan dengan anoreksia.  
Tujuan : Pasien mempu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat.
Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat
Pasien mampu menghabiskan porsi makan sesuai yang diberikan.
Intervensi :
à      Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi.
R/  untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang sehingga motivasi untuk makan meningkat.
à      Timbang berat badan klien setiap 2 hari.
R/  untuk mengetahui peningkatan dfan penurunan berat badan.
à      Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang, maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
R/  untuk meningkatkan asupan karena mudah ditelan.
à      Beri makanan dalam posi kecil dan frekuensi sering.
R/ untuk menghindari mual dan muntah.
à      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi parenteral.
R/  antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
Nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi penoral sangat kurang.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.
Tujuan : Pasien melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal.
Kriteria hasil : kebutuhan personal terpenuhi.
Dapat melakukan gerakan yang bermanfaat bagi tubuh.
Memenuhi AKs dengan teknik penghematan energi.
Intervensi :
à      Beri motivasi pada pasien dan keluarga untuk melakukan mobilisasisebatas kemampuan (missal : miring kanan, miring kiri)
R/  agar pasien dan keluarga mengatahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
à      Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan,minum)
R/  untuk menetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
à      Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya.
R/  untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
à      Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
R/  untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem.


4. Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan cairan yang berlebihan (diare/muntah)
Tujuan : tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan
Kriteria hasil : Turgor kulit meningkat
Wajah tidak nampak pucat
Intervensi :
à      Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan
R/  untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
à      Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
R/  untuk mengetahui keseimbangan cairan.
à      Anjurkan pasien untuk banyak minum 2,5 liter / 24 jam.
R/  untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
à      Observasi kelancaran tetesan infuse.
R/  untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem.
à      Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral/parenteral).
R/  untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral).


D. Evaluasi
Dari hasil intervensi yang telah tertulis, evaluasi yang diharapkan :
à      Dx : peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typii.
Evaluasi : suhu tubuh normal (36 derajat celcius) atau terkontrol.
à      Dx : gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.
Evaluasi : pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat.
à      Dx : intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.
Evaluasi : pasien bias melakukan akivitas kehidupan sehari-hari (AKS) opotimal.
à      Dx : gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubunga dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah)
Evaluasi : kebutuhan cairan terpenuhi.




ASUHAN KEPERAWATAN PADA PNEUMONIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PNEUMONIA

RIA SAPARIYANTI
04.07.1591
A/KP/VI

A. DEFINISI

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru atau alveoli. Terjadinya pneumonia, khususnya pada anak, seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus, sehingga biasa disebut dengan bronchopneumonia. Gejala penyakit tersebut adalah nafas yang cepat dan sesak karena paru-paru meradang secara mendadak.

Pneumonia adalah infeksi atau radang yang cukup serius pada paru-paru. Dari jenis-jenis pneumonia itu ada yang spesifik/khusus yang disebut dengan tuberkulosis atau tbc atau Tb, yang disebabkan oleh bakteri tuberkulosa. Jenis yang lain, adalah SARS yang adalah pneumonia akibat -sampai hari ini- virus.

B. ETIOLOGI

Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri Staphylococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikus grup A juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga Pseudomonas aeruginosa. Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, suatu pneumonia yang relatif sering dijumpai, disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa aspeknya, berada di antara bakteri dan virus. Individu yang mengidap acquired immunodeficiency syndrome, (AIDS) sering mengalami pneumonia yang pada orang normal sangat jarang terjadi yaitu pneumocystis carinii. Individu yang terpajan ke aerosol dari air yang lama tergenang, misalnya dari unit pendingin ruangan (AC) atau alat pelembab yang kotor, dapat mengidap pneumonia Legionella. Individu yang mengalami aspirasi isi lambung karena muntah atau air akibat tenggelam dapat mengidap pneumonia asporasi. Bagi individu tersebut, bahan yang teraspirasi itu sendiri yang biasanya menyebabkan pneumonia, bukan mikro-organisme, denmgan mencetuskan suatu reaksi peradangan.
Penyebabnya :
- Bakteri : streptococus pneumoniae, staphylococus aureus
- Virus : Influenza, parainfluenza, adenovirus
- Jamur : Candidiasis, histoplasmosis, aspergifosis, coccidioido mycosis, cryptococosis, pneumocytis carini
- Aspirasi : Makanan, cairan, lambung
- Inhalasi : Racun atau bahan kimia, rokok, debu dan gas

Pneumonia virus bisa disebabkan oleh:
• Virus sinsisial pernafasan
• Hantavirus
• Virus influenza
• Virus parainfluenza
• Adenovirus
• Rhinovirus
• Virus herpes simpleks
• Sitomegalovirus.
• Virus Influensa
• Virus Synsitical respiratorik
• Adenovirus
• Rubeola
• Varisella
• Micoplasma (pada anak yang relatif besar)
• Pneumococcus
• Streptococcus
• Staphilococcus

Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah: - virus sinsisial pernafasan - adenovirus - virus parainfluenza dan - virus influenza.
Faktor-faktor risiko terkena pneumonia, antara lain, Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), usia lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2 bulan, Jenis kelamin laki-laki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak mendapat ASI memadai, Polusi udara, Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang tidak memadai, Membedong bayi, efisiensi vitamin A dan penyakit kronik menahun.

Faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat Pnemonia :
• Umur dibawah 2 bulan
• Tingkat sosio ekonomi rendah
• Gizi kurang
• Berat badan lahir rendah
• Tingkat pendidikan ibu rendah
• Tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah
• Kepadatan tempat tinggal
• Imunisasi yang tidak memadai
• Menderita penyakit kronis

KLASIFIKASI

Menurut buku Pneumonia Komuniti, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003 menyebutkan tiga klasifikasi pneumonia.
Berdasarkan klinis dan epidemiologis:
• Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia).
• Pneumonia nosokomial, (hospital-acquired pneumonia/nosocomial pneumonia).
• Pneumonia aspirasi.
• Pneumonia pada penderita immunocompromised.

Berdasarkan bakteri penyebab:

1. Pneumonia bakteri/tipikal.
Dapat terjadi pada semua usia. Pneumonia bakterial sering diistilahkan dengan pneumonia akibat kuman. Pneumonia jenis itu bisa menyerang siapa saja, dari bayi hingga mereka yang telah lanjut usia. Para peminum alkohol, pasien yang terkebelakang mental, pasien pascaoperasi, orang yang menderita penyakit pernapasan lain atau infeksi virus adalah yang mempunyai sistem kekebalan tubuh rendah dan menjadi sangat rentan terhadap penyakit itu.
Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak paru-paru.
Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru, atau pun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru, infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri Pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia bakteri tersebut.
Gejalanya
Biasanya pneumonia bakteri itu didahului dengan infeksi saluran napas yang ringan satu minggu sebelumnya. Misalnya, karena infeksi virus (flu). Infeksi virus pada saluran pernapasan dapat mengakibatkan pneumonia disebabkan mukus (cairan/lendir) yang mengandung pneumokokus dapat terisap masuk ke dalam paru-paru.
Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka, misalnya klebsiella pada penderita alkoholik, staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza. Pneumonia Atipikal. Disebabkan mycoplasma, legionella, dan chalamydia.

2. Pneumonia Akibat virus.
Penyebab utama pneumonia virus adalah virus influenza (bedakan dengan bakteri hemofilus influenza yang bukan penyebab penyakit influenza, tetapi bisa menyebabkan pneumonia juga).
Gejalanya
Gejala awal dari pneumonia akibat virus sama seperti gejala influenza, yaitu demam, batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, dan kelemahan. Dalam 12 hingga 36 jam penderita menjadi sesak, batuk lebih parah, dan berlendir sedikit. Terdapat panas tinggi disertai membirunya bibir.
Tipe pneumonia itu bisa ditumpangi dengan infeksi pneumonia karena bakteri. Hal itu yang disebut dengan superinfeksi bakterial. Salah satu tanda terjadi superinfeksi bakterial adalah keluarnya lendir yang kental dan berwarna hijau atau merah tua.

3.Pneumonia jamur,
sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised).

Berdasarkan predileksi infeksi:
1. Pneumonia lobaris, pneumonia yang terjadi pada satu lobus (percabangan besar dari pohon bronkus) baik kanan maupun kiri.
2. Pneumonia bronkopneumonia, pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua. Pada penderita pneumonia, kantong udara paru-paru penuh dengan nanah dan cairan yang lain. Dengan demikian, fungsi paru-paru, yaitu menyerap udara bersih (oksigen) dan mengeluarkan udara kotor menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh menderita kekurangan oksigen dengan segala konsekuensinya, misalnya menjadi lebih mudah terinfeksi oleh bakteri lain (super infeksi) dan sebagainya. Jika demikian keadaannya, tentu tambah sukar penyembuhannya. Penyebab penyakit pada kondisi demikian sudah beraneka macam dan bisa terjadi infeksi yang seluruh tubuh.

C. PATOFISIOLOGI
Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang masuk akan dilawan oleh pelbagai sistem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. Tentu itu semua tergantung besar kecilnya ukuran sang penyebab tersebut.


Terpajan Bakteri

Teraspirasi ke dalam Bronkus Distal dan Alveoli

Konsolidasi Paru


Darah di Sekitar Alveoli Tidak Berfungsi Peradangan / Inflamasi di Paru

Hipoksia Ketidakadekutan Pembentukan Edema
Pertahanan Utama
Dx : Kerusakan Pertukaran Gas Dx : Ketidakefektifan
Dx : Infeksi, Resiko Tinggi Bersihan Jln Nfs

Keperawatan Medikal Bedah, Barbara C. Long

D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala.
Tanda dan Gejala berupa:
• Batuk nonproduktif
• Ingus (nasal discharge)
• Suara napas lemah
• Retraksi intercosta
• Penggunaan otot bantu nafas
• Demam
• Ronchii
• Cyanosis
• Leukositosis
• Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar
• Batuk
• Sakit kepala
• Kekakuan dan nyeri otot
• Sesak nafas
• Menggigil
• Berkeringat
• Lelah.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - kulit yang lembab - mual dan muntah - kekakuan sendi.
Secara umum dapat dibagi menjadi :
Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel, gelisah, malise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.
Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, napas cuping hidung, sesak napas, air hunger, merintih, dan sianosis. Anak yang lebih besar dengan pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada.
Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, dan ronki.
Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada tertinggal di daerah efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara napas tubuler tepat di atas batas cairan, friction rub, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri berkurang bila efusi bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kaku kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa inflamasi) bila terdapat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen (kadang terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah). Pada neonatus dan bayi kecil tanda pneumonia tidak selalu jelas. Efusi pleura pada bayi akan menimbulkan pekak perkusi.
Tanda infeksi ekstra pulmunal.

E. KOMPLIKASI
• Abses paru
• Edusi pleural
• Empisema
• Gagal nafas
• Perikarditis
• Meningitis
• Atelektasis
• Hipotensi
• Delirium
• Asidosis metabolik
• Dehidrasi
• Penyakit multi lobular

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar X
Mengidentifikasikan distribusi strukstural (mis. Lobar, bronchial); dapat juga menyatakan abses luas/infiltrate, empiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bacterial); atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (lebih sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih.
2. GDA
Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
3. JDL leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun.
4. LED meningkat
- Fungsi paru hipoksemia, volume menurun, tekanan jalan nafas meningkat dan komplain menurun.
- Elektrolit Na dan Cl mungkin rendah
- Bilirubin meningkat
- Aspirasi / biopsi jaringan paru
Alat diagnosa termasuk sinar-x dan pemeriksaan sputum. Perawatan tergantung dari penyebab pneumonia; pneumonia disebabkan bakteri dirawat dengan antibiotik.
Pemeriksaan penunjang:
- Rontgen dada
- Pembiakan dahak
- Hitung jenis darah
- Gas darah arteri.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
PENGOBATAN
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah.

Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik.

Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu.

Penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada penyebab, sesuai yang ditentukan oleh pemeriksaan sputum mencakup :
Oksigen 1-2 L/menit.
IVFD dekstrose 10 % : NaCl 0,9% = 3 : 1, + KCl 10 mEq/500 ml cairan. Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.
Jika sesak tidak terlalu berat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip.
Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier.
Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :
Untuk kasus pneumonia community base :
- Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.
- Kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian
Untuk kasus pneumonia hospital base :
- Sefatoksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.
- Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.


ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas : -
Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar
Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar

2. Riwayat Masuk
Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).

3. Riwayat Penyakit Dahulu
Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia.
Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita

4. Pengkajian
a. Sistem Integumen
- Subyektif : -
- Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan

b. Sistem Pulmonal
- Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng
- Obyektif : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru

c. Sistem Cardiovaskuler
- Subyektif : sakit kepala
Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun

d. Sistem Neurosensori
- Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang
- Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi

e. Sistem Musculoskeletal
- Subyektif : lemah, cepat lelah
- Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan

f. Sistem genitourinaria
- Subyektif : -
- Obyektif : produksi urine menurun/normal,

g. Sistem digestif
- Subyektif : mual, kadang muntah
- Obyektif : konsistensi feses normal/diare

Studi Laboratorik
- Hb : menurun/normal
- Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah, kadar karbon darah meningkat/normal
- Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan Pertukaran Gas berhubungan dengan Gangguan pengiriman oksigen.
2. Infeksi, Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran) berhungan dengan Ketidakadekuatan pertahanan utama.
3. Ketdakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan pembentukan edema.

C. INTERVENSI
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pengiriman oksigen.
Keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan jalannya gas (Oksigen dan Karbondioksida) yang aktual (atau dapat mengalami potensial) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular.
KH:
- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan.
- Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
Intervensi:
1) Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas.
R : Manifestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.
2) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk efektif.
R : Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi.
3) Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas senggang.
R : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.
4) Observasi penyimpangan kondisi, catat hipotensi banyaknya jumlah sputum merah muda/berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea berat, gelisah.
R : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi medik segera.

2. Infeksi, Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran) berhungan dengan Ketidakadekuatan pertahanan utama.
KH:
• Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.
• Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.
Intervensi:
1) Pantau tanda vital dengan ketat, khusunya selama awal terapi.
R : Selama periode waktu ini, potensial komplikasi fatal (\hipotensi/syok) dapat terjadi.
2) Anjurkan pasien memperhatikan pengeluaran sekret (mis., meningkatkan pengeluaran daripada menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah dan bau sekret.
R : Meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya membatasi atau menghindarinya, penting bahwa sputum harus dikeluarkan dengan cara aman.
3) Tunjukkan/dorong tehnik mencuci tangan yang baik.
R : Efektif berarti menurunkan penyebaran /tambahan infeksi.
4) Batasi pengunjung sesuai indikasi.
R : Menurunkan pemajanan terhadap patogen infeksi lain.

3.Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan pembentukan edema.
Suatu Keadaan di mana seorang individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau potensial pada status pernapasan sehubungan dengan ketidakmampuan untuk batuk secara efektif.
KH:
• Tidak mengalami aspirasi
• Menunjukkan batuk yang efektif dan peningkatan pertukaran udara dalam paru-paru.
Intervensi :
1) Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan dan gerakan dada.
R : Takipnea, pernapasan dangkal, dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru.
2) Auskultasi area paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi napas adventisius, mis., krekels, megi.
R : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi napas bronkial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi. Krekels, ronki, dan mengi terdengar pada inspirasi dan/atau ekspirasi pada respons terhadap pengumpulan cairan, sekret kental, dan spasme jalan napas/obstruksi.
3) Bantu pasien napas sering. Tunjukkan/bantu pasien mempelajari melakukan batuk, mis., menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi.
R : Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan napas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya napas lebih dalam dan lebih kuat.
4) Penghisapan sesuai indikasi.
R : Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan tingkat kesadaran.


DAFTAR PUSTAKA
1. C, Barbara Long. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 2. 1996. Yayasan IAPK Pajajaran : Bandung.
2. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II Edisi Ketiga. 1999. Media Aesculapius : Jakarta.
3. E, Marilynn Doenges, Mary Frances Moorhouse and Alice C. Geissler. Rencana Asuhan Keperawatan. 1999.EGC : Jakarta.
Asuhan Keperawatan Klien dengan Gonorrhea
Euis Nurbaeti
A/KP/VI
04.07.1572
A. DEFINISI
Gonorhea adalah sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhea yang penularannya melalui hubungan kelamin baik melalui genito-genital, oro-genital, ano-genital. Penyakit ini menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan konjungtiva.
B. PENYEBARAN
Gonore dapat menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lain terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul sehingga menyebabkan nyeri pinggul dan gangguan reproduksi.
C. ETIOLOGI
- Penyebab pasti penyakit gonore adalah bakteri Neisseria gonorrhea yang bersifat patogen.
- Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang pada wanita yang belum pubertas.
D. MANIFESTASI KLINIS
Pada pria:
- Gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi
- Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra kemudian diikuti nyeri ketika berkemih
- Disuria yang timbul mendadak, rasa buang air kecil disertai dengan keluarnya lendir mukoid dari uretra
- Retensi urin akibat inflamasi prostat
- Keluarnya nanah dari penis.
Pada wanita:
- Gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi
- Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan (asimtomatis)
- Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Namun, beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat seperti desakan untuk berkemih
- Nyeri ketika berkemih
- Keluarnya cairan dari vagina
- Demam
- Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual
Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubunga seks melalui anus, dapat menderita gonore di rektumnya. Penderita akan merasa tidak nyaman disekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah disekitar anus tampak merah dan kasar serta tinja terbungkus oleh lendir dan nanah.
E. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan pembantu yang terdiri atas 15 tahap, yaitu:
1. Sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan diplokokus gram negatif, intraseluler dan ekstraseluler, leukosit polimorfonuklear.
2. Kultur untuk identifikasi perlu atau tidaknya dilakukan pembiakan kultur. Menggunakan media transport dan media pertumbuhan.
3. Tes definitif, tes oksidasi (semua golongan Neisseria akan bereaksi positif), tes fermentasi (kuman gonokokus hanya meragikan glukosa)
4. Tes beta laktamase, hasil tes positif ditunjukkan dengan perubahan warna kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta laktamase
5. Tes Thomson dengan menampung urin pagi dalam dua gelas. Tes ini digunakan untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung.
F. KOMPLIKASI
Komplikasi pada pria:
- Prostatitis
- Cowperitis
- Vesikulitis seminalis
- Epididimitis
- Cystitis dan infeksi traktus urinarius superior
Komplikasi pada wanita:
- Komplikasi uretra
- Bartholinitus
- Endometritis dan metritis
- Salphingitis
G. PENGOBATAN
1. Medikamentosa
o Walaupun semua gonokokus sebelumnya sangansensitif terhadap penicilin, banyak ‘strain’ yang sekarang relatif resisten. Terapi penicillin, amoksisilin, dan tetrasiklin masih tetap merupakan pengobatan pilihan.
o Untuk sebagian besar infeksi, penicillin G dalam aqua 4,8 unit ditambah 1 gr probonesid per- oral sebelum penyuntikan penicillin merupakan pengobatan yang memadai.
o Spectinomycin berguna untuk penyakit gonokokus yang resisten dan penderita yang peka terhadap penicillin. Dosis: 2 gr IM untuk pria dan 4 gr untuk wanita.
o Pengobatan jangka panjang diperlukan untuk endokarditis dan meningitis gonokokus.
2. Non-medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada klien dengan menjelaskan tentang:
o Bahaya penyakit menular seksual
o Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
o Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
o Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat dihindari.
o Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa yang akan datang.
H. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Diagnosa dan Intervensi
· Nyeri b.d reaksi infeksi
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Mengenali faktor penyebab
- Menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri
- Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
- Melaporkan nyeri yang sudah terkontrol
Intervensi:
a) Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi.
b) Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.
c) Gunakan komunikasi terapeutik agar klien dapat mengekspresikan nyeri
d) Berikan dukungan terhadap klien dan keluarga
e) Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap ketidaknyamanan (ex.: temperatur ruangan, penyinaran, dll)
f) Ajarkan penggunaan teknik non farmakologik (ex.: relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massage, TENS, hipnotis, terapi aktivitas)
g) Berikan analgesik sesuai anjuran
h) Tingkatkan tidur atau istirahat yang cukup
i) Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan.
· Hipertermi b.d reaksi inflamasi
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Suhu dalam rentang normal
- Nadi dan RR dalam rentang normal
- Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
Intervensi:
a) Monitor vital sign
b) Monitor suhu minimal 2 jam
c) Monitor warna kulit
d) Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
e) Selimuti klien untuk mencegah hilangnya panas tubuh
f) Kompres klien pada lipat paha dan aksila
g) Berikan antipiretik bila perlu
· Perubahan pola eliminasi urin b.d proses inflamasi
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Urin akan menjadi kontinens
- Eliminasi urin tidak akan terganggu: bau, jumlah, warna urin dalam rentang yang diharapkan dan pengeluaran urin tanpa disertai nyeri
Intervensi:
a) Pantau eliminasi urin meliputi: frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna dengan tepat
b) Rujuk pada ahli urologi bila penyebab akut ditemukan
· Cemas b.d penyakit
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan:
- Tidak ada tanda-tanda kecemasan
- Melaporkan penurunan durasi dan episode cemas
- Melaporkan pemenuhan kebutuhan tidur adekuat
- Menunjukkan fleksibilitas peran
Intervensi:
a) Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan (takikardi, takipneu, ekspresi cemas non verbal)
b) Temani klien untuk mendukung kecemasan dan rasa takut
c) Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi
d) Berikan pengobatan untuk menurunkan cemas dengan cara yang tepat
e) Sediakan informasi aktual tentang diagnosa, penanganan, dan prognosis
· Risiko penularan b.d kurang pengetahuan tentang sifat menular dari penyakit
Tujuan:
Dapat meminimalkan terjadinya penularan penyakit pada orang lain
Intervensi:
Berikan pendidikan kesehatan kepada klien dengan menjelaskan tentang:
- Bahaya penyakit menular
- Pentingnya memetuhi pengobatan yang diberikan
- Jelaskan cara penularan PMS dan perlunya untuk setia pada pasangan
- Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat menghindarinya.
· Harga diri rendah b.d penyakit
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien akan mengekspresikan pandangan positif untuk masa depan dan memulai kembali tingkatan fungsi sebelumnya dengan indikator:
- Mengindentifikasi aspek-aspek positif diri
- Menganalisis perilaku sendiri dan konsekuensinya
- Mengidentifikasi cara-cara menggunakan kontrol dan mempengaruhi hasil
Intervensi:
a) Bantu individu dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan
b) Dorong klien untuk membayangkan masa depan dan hasil positif dari kehidupan
c) Perkuat kemampuan dan karakter positif (misal: hobi, keterampilan, penampilan, pekerjaan)
d) Bantu klien menerima perasaan positif dan negatif
e) Bantu dalam mengidentifikasi tanggung jawab sendiri dan kontrol situasi
I. BIBLIOGRAFI
Lachlan, MC. 1987. Buku Pedoman Diagnosis dan Penyakit Kelamin. Ilmiah Kedokteran: Yogyakarta.
Natadidjaja, hendarto. 1990. Kapita Selekta Kedokteran. Bina Rupa Aksara: Jakarta.
Prof. DR. Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 3. Balai Penerbit FKUI: Jakarta.
Wikinson, Judith M. 2006. Buku saku DIAGNOSIS KEPERAWATAN. Penerbit buku kedokteran EGC.
Carpenito, Lynda J. 2001. Buku saku DIAGNOSA KEPERAWATAN Edisi 8. Penerbit buku kedokteran EGC.
http://www.blogdokter.net/2008/05/25/gonorrhea/