BARBITURAT
Anastesi dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tiada rasa sakit. Anastesi digunakan pada pembedahan dengan maksud mencapai keadaan pingsan, merintangi rangsangan nyeri (analgesik) serta menimbulkan pelemasan otot (relaksasi).1
Usaha menekan rasa nyeri pada tindakan operasi dengan menggunakan obat telah dilakukan sejah zaman dahulu termasuk pemberian alcohol dan opium secara oral. Tahun 1846, William morton, di Boston, pertama kali menggunakan obat anastesi dietil eter untuk menghilangkan nyeri operasi. Pada tahun yang sama, Jame Simpson, di Skotlandia, menggunakan kloroform yang 20 tahun kemudian diikuti dengan penggunaan nitrogen oksida, yang diperkenalkan oleh Davy pada era tahun 1790. pada tahun 1930 an, dunia anastesi mulai mengenal anastesi modern dengan pemberian obat-obat golongan barbiturat (tiopental) yang digunakan untuk efek hipnotik dan sedatif yang diberikan secara intravena.2
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP), mulai yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan , hingga yang berat (kecuali benzodiazepine) yaitu hilangnya kesadaran, koma dan mati bergantung kepada dosis. Pada dosis terapi obat sedasi menekan aktifitas, menurunkan respons terhadap rangsangan dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis, contohnya Barbiturat.3,8
A. Deskripsi Barbiturat
Barbiturat selama beberapa saat telah digunakan secara ekstensif sebagai hipnotik dan sedatif. Namun sekarang kecuali untuk beberapa penggunaan yang spesifik, barbiturat telah banyak digantikan dengan benzodiazepine yang lebih aman, pengecualian fenobarbital, yang memiliki anti konvulsi yang masih banyak digunakan.2
Secara kimia, barbiturat merupakan derivat asam barbiturat. Asam barbiturat (2,4,4-trioksoheksahidropirimidin) merupakan hasil reaksi kondensasi antara ureum dengan asam malonat.3,8
Susunan Saraf Pusat efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hipnosis, koma sampai dengan kematian. Efek antianseitas barbiturat berhubungan dengan tingkat sedasi yang dihasilkan. Efek hipnotik barbiturat dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu. Efek anastesi umumnya diperlihatkan oleh golongan tiobarbital dan beberapa oksibarbital untuk anastesi umum. Untuk efek antikonvulsi umumnya diberikan oleh berbiturat yang mengandung substitusi 5-fenil misalnya fenobarbital.1,3,7,8
Pada SSP
Barbiturat berkerja pada seluruh SSP, walaupun pada setiap tempat tidak sama kuatnya. Dosis nonanastesi terutama menekan respon pasca sinap. Penghambatan hanya terjadi pada sinaps GABA-nergik. Walaupun demikian efek yang terjadi mungkin tidak semuanya melalui GABA sebagai mediator.
Barbiturat memperlihatkan beberapa efek yang berbeda pada eksitasi dan inhibisi transmisi sinaptik. Kapasitas berbiturat membantu kerja GABA sebagian menyerupai kerja benzodiazepine, namun pada dosis yang lebih tinggi dapat bersifat sebagai agonis GABA-nergik, sehingga pada dosis tinggi barbiturat dapat menimbulkan depresi SSP yang berat.7,8
Pada susunan saraf perifer
Barbiturat secara selektif menekan transmisi ganglion otonom dan mereduksi eksitasi nikotinik oleh esterkolin. Efek ini terlihat dengan turunya tekanan darah setelah pemberian oksibarbital IV dan pada intoksikasi berat.8
Pada pernafasan
Barbiturat menyebabkan depresi nafas yang sebanding dengan besarnya dosis. Pemberian barbiturat dosis sedatif hampir tidak berpengaruh terhadap pernafasan, sedangkan dosis hipnotik menyebabkan pengurangan frekuensi nafas. Pernafasan dapat terganggu karena : (1) pengaruh langsung barbiturat terhadap pusat nafas; (2) hiperefleksi N.vagus, yang bisa menyebabkan batuk, bersin, cegukan, dan laringospasme pada anastesi IV. Pada intoksikasi barbiturat, kepekaan sel pengatur nafas pada medulla oblongata terhadap CO2 berkurang sehingga ventilasi paru berkurang. Keadaan ini menyebabkan pengeluaran CO2 dan pemasukan O2 berkurang, sehingga terjadilah hipoksia.1,3,7
Pada Sistem Kardiovaskular
Barbiturat dosis hipnotik tidak memberikan efek yang nyata pada system kardiovaskular. Frekuensi nadi dan tensi sedikit menurun akibat sedasi yang ditimbulkan oleh berbiturat. Pemberian barbiturat dosis terapi secara IV dengan cepat dapat menyebabkan tekanan darah turun secara mendadak. Efek kardiovaskular pada intoksikasi barbiturat sebagian besar disebabkan oleh hipoksia sekunder akibat depresi nafas. Selain itu pada dosis tinggi dapat menyebabkan depresi pusat vasomotor diikuti vasodilatasi perifer sehingga terjadi hipotensi.1,2,8
Pada Saluran Cerna
Oksibarbiturat cenderung menurunkan tonus otot usus dan kontraksinya. Pusat kerjanya sebagian diperifer dan sebagian dipusat bergantung pada dosis. Dosis hipnotik tidak memperpanjang waktu pengosongan lambung dan gejala muntah, diare dapat dihilangkan oleh dosis sedasi barbiturat.1,3
Pada Hati
Barbiturat menaikan kadar enzim, protein dan lemak pada retikuloendoplasmik hati. Induksi enzim ini menaikan kecepatan metabolisme beberapa obat dan zat endogen termasuk hormone stroid, garam empedu, vitamin K dan D.3
Pada Ginjal
Barbiturat tidak berefek buruk pada ginjal yang sehat. Oliguri dan anuria dapat terjadi pada keracunan akut barbiturat terutama akibat hipotensi yang nyata.7,8
B. Farmakokinetik
Barbiturat secara oral diabsorpsi cepat dan sempurna dari lambung dan usus halus kedalam darah. Secara IV barbiturat digunakan untuk mengatasi status epilepsi dan menginduksi serta mempertahankan anastesi umum. Barbiturat didistribusi secara luas dan dapat melewati plasenta, ikatan dengan protein plasma sesuai dengan kelarutan dalam lemak; tiopental yang terbesar.7
Barbiturat yang mudah larut dalam lemak, misalnya tiopental dan metoheksital, setelah pemberian secara IV, akan ditimbun di jaringan lemak dan otot. Hal ini akan menyebabkan kadarnya dalam plasma dan otak turun dengan cepat. Barbiturat yang kurang lipofilik, misalnya aprobarbital dan fenobarbital, dimetabolisme hampir sempurna didalam hati sebelum diekskresi di ginjal. Pada kebanyakan kasus, perubahan pada fungsi ginjal tidak mempengaruhi eliminasi obat. Fenobarbital diekskresi ke dalam urine dalam bentuk tidak berubah sampai jumlah tertentu (20-30 %) pada manusia.
Faktor yang mempengaruhi biodisposisi hipnotik dan sedatif dapat dipengaruhi oleh berbagai hal terutama perubahan pada fungsi hati sebagai akibat dari penyakit, usia tua yang mengakibatkan penurunan kecepatan pembersihan obat yang dimetabolisme yang terjadi hampir pada semua obat golongan barbiturat.
C. Indikasi
Penggunaan barbiturat sebagai hipnotik sedatif telah menurun secara nyata karena efek terhadap SSP kurang spesifik yang telah banyak digantikan oleh golongan benzodiazepine. Penggunaan pada anastesi masih banyak obat golongan barbiturat yang digunakan, umumnya tiopental dan fenobarbital.1,4,5,6,7,8
• Tiopental
1. Di gunakan untuk induksi pada anestesi umum.
2. Operasi yang singkat (reposisi fraktur, insisi, jahit luka).
3. Sedasi pada analgesik regional
4. Mengatasi kejang-kejang pada eklamsia, epilepsi, dan tetanus
• Fenobarbital
1. Untuk menghilangkan ansietas
2. Sebagai antikonvulsi (pada epilepsi)
3. Untuk sedatif dan hipnotik
D. Kontra Indikasi
Barbiturat tidak boleh diberikan pada penderita alergi barbiturat, penyakit hati atau ginjal, hipoksia, penyakit Parkinson. Barbiturat juga tidak boleh diberikan pada penderita psikoneurotik tertentu, karena dapat menambah kebingungan di malam hari yang terjadi pada penderita usia lanjut.3,4,5
E. Efek Samping2,7,8
Hangover, Gejala ini merupakan residu depresi SSP setelah efek hipnotik berakhir. Dapat terjadi beberapa hari setelah pemberian obat dihentikan. Efek residu mungkin berupa vertigo, mual, atau diare. Kadang kadang timbul kelainan emosional dan fobia dapat bertambah berat.
Eksitasi paradoksal, Pada beberapa individu, pemakaian ulang barbiturat (terutama fenoberbital dan N-desmetil barbiturat) lebih menimbulkan eksitasi dari pada depresi. idiosinkrasi ini relative umum terjadi diantara penderita usia lanjut dan lemah.
Rasa nyeri, Barbiturat sesekali menimbulkan mialgia, neuralgia, artalgia, terutama pada penderita psikoneurotik yang menderita insomnia. Bila diberikan dalam keadaan nyeri, dapat menyebabkan gelisah, eksitasi, dan bahkan delirium.
Alergi, Reaksi alergi terutama terjadi pada individu alergik. Segala bentuk hipersensitivitas dapat timbul, terutama dermatosis. Jarang terjadi dermatosis eksfoliativa yang berakhir fatal pada penggunaan fenobarbital, kadang-kadang disertai demam, delirium dan kerusakan degeneratif hati.
Reaksi obat, Kombinasi barbiturat dengan depresan SSP lain misal etanol akan meningkatkan efek depresinya; Antihistamin, isoniasid, metilfenidat, dan penghambat MAO juga dapat menaikkan efek depresi barbiturat.
F. Posologi
Tabel 1. Nama obat, Bentuk sediaan dan Dosis Hipnotik Sedatif
Nama obat Bentuk sediaan Dosis dewasa (mg)
Sedatif Hipnotik
Amobarbital
Aprobarbital
Butabarbital
Pentobarbital
Sekobarbital
fenobarbital K,T,I,P
E
K,T,E
K,E,I,S
K,T,I
K,T,E,I 30-50 2-3xd 65-200
40 3xd 40-160
15-30 3-4xd 50-100
20 3-4xd 100
30-50 3-4xd 50-200
15-40 2-3xd 100-320
Dimodifikasi dari Goodman and Gilman, 1990
Keterangan :
K : kapsul, E : eliksir, I : injeksi, L : larutan, P : bubuk, S : supositoria, T : tablet
A. Intoksikasi
Intoksikasi barbiturat dapat terjadi karena percobaan bunuh diri, kelalaian, kecelakaan pada anak-anak atau penyalahgunaan obat. Dosis letal barbiturat sangan bervariasi. Keracunan berat umumnya terjadi bila lebih dari 10 kali dosis hipnotik dimakan sekaligus. Dosis fatal fenobarbital adalah 6-10 g, sedangkan amobarbital, sekobarbital, dan pentobarbital adalah 2-3 g. kadar plasma letal terendah yang dikemukakan adalah 60 mcg/ml bagi fenobarbital, dan 10 mcg/ml bagi barbiturat dengan efek singkat, misal amobarbital dan pentobarbital.1,3,8
Gejala simtomatik keracunan barbiturat ditunjukan terutama terhadap SSP dan kardiovaskular. Pada keracunan berat, reflek dalam mungkin tetap ada selama beberapa waktu setelah penderita koma. Gejala babinzki sering kali positif. Pupil mata mungkin kontraksi dan bereaksi terhadap cahaya, tapi pada tahap akhir keracunan mungkin dapat terjadi dilatasi. Gejala intoksikasi akut yang bahaya ialah depresi pernafasan berat, tekanan darah turun rendah sekali, oligiuria dan anuria.3
B. Pengobatan Intoksikasi
Intoksikasi barbiturat akut dapat diatasi dengan maksimal dengan pengobatan simtomatik suportif yang umum.
Dalamnya koma dan ventilasi yang memadai adalah yang pertama dinilai. Bila keracunan terjadi < 24 jam sejak makan obat, tindakan cuci lambung dan memuntahkan obat perlu dipertimbangkan, sebab barbiturat dapat mengurangi motilitas saluran cerna. Tindakan cuci lambung serta memuntahkan obat perlu dilakukan hanya setelah tindakan untuk menghindari aspirasi dilakukan. Setelah cuci lambung, karbon aktif dan suatu pencahar (sarbitol) harus diberikan. Pemberian dosis ulang karbon (setelah terdengar bising usus) dapat mempersingkat waktu paruh fenobarbital. Pengukuran fungsi nafas perlu dilakukan sedini mungkin. Pco2 dan O2 perlu dimonitor, dan pernafasan buatan harus dimulai bila diindikasikan.1,7,3
Pada keracunan barbiturat akut yang berat, syok merupakan ancaman utama. Sering kali penderita dikirim ke rumah sakit dalam keadaan hipotensi berat atau syok, dan dehidrasi yang berat pula. Hal ini segara diatasi, bila perlu tekanan darah dapat ditunjang dengan dopamine
C. Interaksi Obat
Interaksi obat yang paling sering melibatkan hipnotik-sedatif adalah interaksi dengan obat depresan susunan saraf pusat lain, yang menyebabkan efek aditif. Efek aditif yang jelas dapat diramalkan dengan penggunaan minuman beralkohol, analgesik narkotik, antikonvulsi, fenotiazin dan obat-obat anti depresan golongan trisiklik.1,2
DAFTAR PUSTAKA
1. Katzung, 1998, Farmakologi Dasar dan Klinis, Staf Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Hal : 351-366
2. Tjay dan Rahardja, 2003, Obat-obat Penting, PT Elex Media Komputindo Klompok Gramedia, Jakarta, Hal :357-369
3. H. Sarjono, Santoso dan Hadi R D., 1995., Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Indonesia., Jakarta., Hal: 124-139
4. Muhiman, Dkk, 1989, Anastesiologi, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Indonesia., Jakarta., Hal: 65-69
5. ,2000, catatan kuliah Anastesiologi, bagianAnastesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, Hal : 16-18
6. Latief S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R., 2001., Edisi II, Petunjuk Praktis Anestesiologi, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Indonesia., Jakarta., Hal: 77-83, 161
7. www.home.intekom.com
8. www.drugs.com
USWAH AMIN SUTRIMAH
0407 1604
A/KP/VII
Senin, 25 Oktober 2010
PIRACETAM
SAGITA ELVIRADYANI
A/KP/VII
04.07.1593
PIRACETAM
Piracetam yang merupakan derivat dari GABA diketahui mempunyai potenis sebagai antiiskemik, dan dapat mengembalikan perfusi yang abnormal pada kasus stroke dan demensia dan juga menurunkan keruskaan sel yang diinduksi oleh suatu jejas iskemik lokal. Walaupun penggunaan piracetam untuk post concussion ini sudah hampir 25 tahun namun studi-studi klinis untuk menilai efektivitas penggunaan piracetam pada PCS yang dengan disain dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah memang sangat sangat sedikit.
Salah satu studi klinis yang dilakukan oleh Agrawal D. dkk., ini adalah adalah studi preliminari yang bersifat prospektif dengan desain acak, dengan pembanding plasebo. Hasil studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Indian Journal of Neurotrauma Mei tahun 2007 merupakan salah satu studi penggunaan piracetam untuk kasus gejala pasca trauma kepala. Studi yang melibatkan sebanyak 10 subyek yang mendapat piracetam 2,4 gram perhari dan sebanyak 10 subyek sebagai pembanding. Lama pemberian enam minggu. subyek yang mengikuti studi ini adalah pasien pasca trauma kepala yang secara klinis sudah disesuaikan dengan kriteri tentang PCS dari American Congress of Rehabilitation Medicine tentang mild traumatic brain injury yaitu meliputi: 1) kehilangan kesadaran tidak melebihi 30 menit. 2) setelah 30 menit skor GCS menjadi sekitar 13 – 15, dan 3) posttraumatic amnesia tidak melebihi 24 jam.Parameter yang dievaluasi adalah perfusi jaringan otak yang dihitung berdasarkan rasio rata-rata perfusi daerah yang rusak dengan daerah yang tidak terkena kerusakan. Pengukuran perfusi ini dilakuakn dengan alat yang disebut dengan SPECT (single photon emission computed tomography).
Hasil dari studi tersebut menujukkan bahwa rasio perfusi jaringan otak pada kelompok yang mendapatkan piracetam meningkat secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok yang mendapat plasebo, yaitu masing-masing: 0,959 vs 0,882 dengan P <0,001; 95% CI -,0114, - 0,038). 9/10 pasien (90%) terjadi perbaikan dari gejala-gejala PCS dibandingkan dengan kelompok plasebo yang hanya 3/10 (30%).
Kesimpulan dari studi tersebut menujukkan bahwa, defek perfusi serebral yang terlihat dengan pemeriksaan SPECT mungkin berhubungan dengan manifestasi klinis PCS. Dan dosis rendah piracetam dapat memperbaiki aliran darah regional dari otak dan mengembalikan abnormalitas pada pasien ini.
Macam-macam obatnya :
Piracetam Injeksi
Injeksi IM/IV
Infus IV
Komposisi:
Tiap ml mengandung:
Piracetam 200 mg
Farmakologi:
Piracetam adalah suatu nootropic-Agent.
Indikasi:
Pengobatan infark serebral
Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap piracetam.
Gangguan ginjal berat (bersihan kreatinin < 20 ml/menit)
Dosis:
Dosis umum: 1 gram 3 x 1 sehari IV atau IM.
Cara penggunaan:
Intramuskular dan intravena, dapat juga diberikan bersama infus.
Larutan injeksi piracetam dapat diberikan bersamaan dengan Glukosa 5%, 10%, 20%. Fruktosa 5%, 10%, 20%, Levulosa 5%, NaCl Isotonik (0,9%). Dekstran 40 10% dalam NaCl 0,9%. Dekstran 75,6% dalam larutan NaCl 0,9%. Ringer, Ringer-laktat. Manitol – Rheo Macrodex dalam larutan HES (Hydroxyethyl Starch) 6%. Larutan injeksi piracetam stabil dalam infus di atas kurang dari 24 jam.
Efek samping:
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah dan gangguan tidur. Gangguan saluran cerna misalnya: nausea, muntah, diare, dan gastralgia. Yang jarang terjadi adalah pusing-pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido. Mulut kering, penambahan berat badan dan umumnya reaksi hipersensitivitas dermatologik.
Peringatan dan perhatian:
• Hati-hati pada penderita gangguan fungsi ginjal karena piracetam diekskresikan terutama melalui ginjal sehingga perlu dilakukan pengamatan fungsi ginjal.
• Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui. Perlu dilakukan evaluasi hasil yang didapat selama 3 bulan pertama kehamilan atau menyusui. Piracetam belum dinyatakan aman digunakan pada wanita hamil.
• Piracetam dapat melalui sawar plasenta.
Interaksi obat:
Pemberian bersama dengan ekstrak tiroid, menyebabkan confusion, iritabilitas dan gangguan tidur.
Kemasan dan nomor registrasi:
PIRACETAM injeksi; Kotak, 10 ampul @ 5 ml; GKL0305032343A1
PIRACETAM Injeksi; Kotak, 4 ampul @ 15 ml; GKL0305032343A1
PIRACETAM Infus; botol @ 60 ml; GKL0305032343A2
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30ÂșC), TERLINDUNG DARI CAHAYA.
Piracetam 1200 mg
Komposisi:
Tiap kaptab salut selaput mengandung piracetam 1200 mg.
Indikasi:
Gejala-gejala involusi yang berhubungan dengan usia lanjut seperti kemunduran daya pikir, astenia, gangguan adaptasi, reaksi psikomotorik yang terganggu.
Alkoholisme kronik dan adiksi
Pre-delirium, delirium tremens, gangguan fungsi dan kemunduran intelegensia yang diakibatkan oleh alkoholisme kronik (gangguan ingatan, konsentrasi pikiran, perhatian dan intelegensia), pengobatan detoksikasi (untuk gangguan karena penghentian obat secara mendadak, gangguan selera makan dan defisiensi).
Gejala paska-trauma:
Disfungsi serebral sehubungan dengan pasca-trauma (sakit kepala, vertigo, agitasi, gangguan ingatan dan astenia).
Dosis:
Gejala psikomotorik yang disebabkan oleh usia lanjut:
Dosis awal:
2,4 g (2 kaptab salut selaput 1200 mg) sehari selama 6 minggu. Dianjurkan dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan. Dosis pemeliharaan: 1,2 g sehari.
Gejala pasca trauma:
Pada umumnya diberikan dengan dosis 1,2 – 4,8 g/hari terbagi dalam 2 atau 3 dosis.
Lama Pengobatan:
Pada beberapa kasus akut, efek piracetam segera tampak, sedangkan pada kasus lainnya perbaikan biasanya terjadi pada minggu ketiga. Untuk mempercepat perbaikan, maka sebaiknya pengobatan dilanjutkan.
Kemasan:
Ktk 50
• Piracetam 200 mg/mL injeksi ( 1 box berisi 4 ampul @ 15 mL ), No. Reg : GKL0308509643A1.
• Piracetam 200 mg/mL injeksi ( 1 box berisi 10 ampul @ 5 mL ), No. Reg : GKL0308509643A1.
• Piracetam 400 mg tablet ( 1 box berisi 5 strip @ 10 tablet ), No. Reg : GKL0308508817A1
• Piracetam 800 mg kaplet ( 1 box berisi 5 strip @ 10 kaplet ), No. Reg : GKL0308508909A1
• Piracetam 1200 mg kaplet ( 1 box berisi 3 strip @ 10 kaplet, No. Reg : GKL0408508909B1
.: Indikasi :.
Sediaan injeksi : Pengobatan infark serebral.
Sediaan oral : Gejala involusi yang berhubungan dengan usia lanjut, alkoholisme kronik dan adiksi; dan gejala pasca trauma.
.: Kontra Indikasi :.
• Penderita dengan insufisiensi ginjal yang berat (bersihan kreatinin < 20 mL / min).
• Penderita yang hipersensitif terhadap piracetam atau derivat pirolidon lainnya, termasuk komponen obat.
• Penderita dengan cerebral haemorrhage.
.: Dosis :. Piracetam injeksi
• Dosis yang dianjurkan : 1 gram 3 x sehari, intravena.
Piracetam oral
• Simptom Psikis – Organik yang berhubungan dengan usia lanjut : Dosis awal perhari : 2,4 gram ( 6 tablet 400 mg atau 3 kaplet 800 mg atau 2 kaplet 1200 mg) terbagi dalam 2 – 3 waktu selama 6 minggu, diikuti dengan 1,2 gram / hari sebagai dosis perawatan.
• Simptom Post – Trauma : Dosis rata-rata : dosis awal : 2 tablet 400 mg atau 1 kaplet 800 mg, 3 kali sehari. Jika efek yang diharapkan telah tercapai, kurangi dosis secara bertahap menjadi 1 tablet 400 mg atau ½ kaplet 800 mg.
Lama pengobatan : Pada beberapa kasus akut, efek dari piracetam segera terlihat, sementara pada kasus lainnya, simptom mereda biasanya setelah minggu ketiga pemberian. Agar piracetam lebih efektif, pengobatan yang berkesinambungan sangat dianjurkan.
.: Efek Samping :.
Efek samping yang pernah dilaporkan selama pengobatan :
• Nervousness, irritabilitas, insomnia, anxietas, tremor dan agitasi. Pada beberapa pasien telah dilaporkan : fatigue dan somnolence.
• Gangguan gastro-intestinal (nausea, vomiting, diare, gastralgia, sakit kepala, dan vertigo) pernah dilaporkan. Efek samping lain yang kadang kala terjadi : mulut kering, meningkatnya libido, meningkatnya berat badan dan reaksi hipersensitif pada kulit.
.: Peringatan dan Perhatian :.
• Oleh karena piracetam seluruhnya dieliminasi melalui ginjal, peringatan harus diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal, oleh karena itu dianjurkan melakukan pengecekan fungsi ginjal.
• Oleh karena efek piracetam pada agregasi platelet, peringatan diberikan pada penderita dengan ganggguan hemostasis, operasi besar atau pendarahan berat.
• Hindari penghentian obat secara tiba-tiba, karena dapat menginduksi mioklonus atau kejang umum pada penderita mioklonus.
.: Interaksi Obat :. Pernah dilaporkan adanya satu kasus gangguan konfusi, irritabilitas, dan gangguan tidur, pada pemberian bersama dengan ekstrak tiroid ( T3+T4). .: Lain-lain :.
Penyimpanan:
Penyimpanan Piracetam injeksi pada suhu 15–25°C Penyimpanan Piracetam oral pada suhu 25–30°C
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
PIRACETAM 1200MG TAB@30 GHX
Kandungan
Piracetam
Indikasi
Gejala involusi yg berhubungan dg usia lanjut, astenia, alkoholisme kronis & adiksi, gejala pasca trauma
Kontra Indikasi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Efek Samping
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah, ggn tidur, mual, muntah, diare, gastralgia, pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan
Perhatian
Hipersensitif thd pirasetam, ggn fungsi ginjal, hamil, laktasi
Dosis
Oral Gejala psiko-organik sehubungan dg usia lanjut Awal 2.4 g/hr selama 6 minggu dilanjutkan dg dosis pemeliharaan 1.2 g/hr. Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 x/hr, bila efek yg diinginkan sdh diperoleh dosis dikurangi bertahap s/d 400 mg 3 x/hr
Interaksi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Kemasan
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
PIRACETAM 1200MG TAB@30 GHX
Kandungan
Piracetam
Indikasi
Gejala involusi yg berhubungan dg usia lanjut, astenia, alkoholisme kronis & adiksi, gejala pasca trauma
Kontra Indikasi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Efek Samping
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah, ggn tidur, mual, muntah, diare, gastralgia, pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan
Perhatian
Hipersensitif thd pirasetam, ggn fungsi ginjal, hamil, laktasi
Dosis
Oral Gejala psiko-organik sehubungan dg usia lanjut Awal 2.4 g/hr selama 6 minggu dilanjutkan dg dosis pemeliharaan 1.2 g/hr. Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 x/hr, bila efek yg diinginkan sdh diperoleh dosis dikurangi bertahap s/d 400 mg 3 x/hr
Interaksi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Kemasan
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
PIRACETAM 1200MG TAB@30 GHX
Kandungan
Piracetam
Indikasi
Gejala involusi yg berhubungan dg usia lanjut, astenia, alkoholisme kronis & adiksi, gejala pasca trauma
Kontra Indikasi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Efek Samping
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah, ggn tidur, mual, muntah, diare, gastralgia, pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan
Perhatian
Hipersensitif thd pirasetam, ggn fungsi ginjal, hamil, laktasi
Dosis
Oral Gejala psiko-organik sehubungan dg usia lanjut Awal 2.4 g/hr selama 6 minggu dilanjutkan dg dosis pemeliharaan 1.2 g/hr. Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 x/hr, bila efek yg diinginkan sdh diperoleh dosis dikurangi bertahap s/d 400 mg 3 x/hr
Interaksi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Kemasan
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
GOLONGAN GENERIK
Piracetam.
INDIKASI
Infark serebral. Gejala involusi yang berhubungan dengan usia lanjut (astenia, kemunduran daya pikir, gangguan adaptasi, gangguan reaksi psikomotorik, alkoholisme kronik dan adiksi, disfungsi serebral sehubungan dengan akibatpasca trauma (sakit kepala, vertigo, agitasi, gangguan ingatan, astenia).
KONTRA INDIKASI
gangguan ginjal berat (bersihan kreatinin kurang dari 20 mL/menit).Hipersensitif terhadap piracetam dan komponen obat ini.
PERHATIAN
Gangguan fungsi ginjal. Hamil, laktasi.
EFEK SAMPING
Agitasi, rasa gugup, iritabilitas, rasa lelah, gangguan tidur. Gangguan gastrointestinal (mual, muntah, diare, gastralgia), pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan.
KEMASAN
Tablet salut selaput 800 mg x 5 x 10's.
DOSIS
Gejala psiko organik sehubungan usia lanjut Awal 2.4 g/hari terbagi dalam 2-3 dosis selama 6 minggu dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 1.2 g/hari.
Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 kali sehari, bila sudah didapat efek adekuat, kurangi dosis secara bertahap sampai dengan 400 mg 3 kali sehari.
# Lansia dan gangguan fungsi ginjal dengan bersihan40-60 mL/menit ½ dosis lazim.
# 20-40 mL/menit ¼ dosis lazim.
A/KP/VII
04.07.1593
PIRACETAM
Piracetam yang merupakan derivat dari GABA diketahui mempunyai potenis sebagai antiiskemik, dan dapat mengembalikan perfusi yang abnormal pada kasus stroke dan demensia dan juga menurunkan keruskaan sel yang diinduksi oleh suatu jejas iskemik lokal. Walaupun penggunaan piracetam untuk post concussion ini sudah hampir 25 tahun namun studi-studi klinis untuk menilai efektivitas penggunaan piracetam pada PCS yang dengan disain dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah memang sangat sangat sedikit.
Salah satu studi klinis yang dilakukan oleh Agrawal D. dkk., ini adalah adalah studi preliminari yang bersifat prospektif dengan desain acak, dengan pembanding plasebo. Hasil studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Indian Journal of Neurotrauma Mei tahun 2007 merupakan salah satu studi penggunaan piracetam untuk kasus gejala pasca trauma kepala. Studi yang melibatkan sebanyak 10 subyek yang mendapat piracetam 2,4 gram perhari dan sebanyak 10 subyek sebagai pembanding. Lama pemberian enam minggu. subyek yang mengikuti studi ini adalah pasien pasca trauma kepala yang secara klinis sudah disesuaikan dengan kriteri tentang PCS dari American Congress of Rehabilitation Medicine tentang mild traumatic brain injury yaitu meliputi: 1) kehilangan kesadaran tidak melebihi 30 menit. 2) setelah 30 menit skor GCS menjadi sekitar 13 – 15, dan 3) posttraumatic amnesia tidak melebihi 24 jam.Parameter yang dievaluasi adalah perfusi jaringan otak yang dihitung berdasarkan rasio rata-rata perfusi daerah yang rusak dengan daerah yang tidak terkena kerusakan. Pengukuran perfusi ini dilakuakn dengan alat yang disebut dengan SPECT (single photon emission computed tomography).
Hasil dari studi tersebut menujukkan bahwa rasio perfusi jaringan otak pada kelompok yang mendapatkan piracetam meningkat secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok yang mendapat plasebo, yaitu masing-masing: 0,959 vs 0,882 dengan P <0,001; 95% CI -,0114, - 0,038). 9/10 pasien (90%) terjadi perbaikan dari gejala-gejala PCS dibandingkan dengan kelompok plasebo yang hanya 3/10 (30%).
Kesimpulan dari studi tersebut menujukkan bahwa, defek perfusi serebral yang terlihat dengan pemeriksaan SPECT mungkin berhubungan dengan manifestasi klinis PCS. Dan dosis rendah piracetam dapat memperbaiki aliran darah regional dari otak dan mengembalikan abnormalitas pada pasien ini.
Macam-macam obatnya :
Piracetam Injeksi
Injeksi IM/IV
Infus IV
Komposisi:
Tiap ml mengandung:
Piracetam 200 mg
Farmakologi:
Piracetam adalah suatu nootropic-Agent.
Indikasi:
Pengobatan infark serebral
Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap piracetam.
Gangguan ginjal berat (bersihan kreatinin < 20 ml/menit)
Dosis:
Dosis umum: 1 gram 3 x 1 sehari IV atau IM.
Cara penggunaan:
Intramuskular dan intravena, dapat juga diberikan bersama infus.
Larutan injeksi piracetam dapat diberikan bersamaan dengan Glukosa 5%, 10%, 20%. Fruktosa 5%, 10%, 20%, Levulosa 5%, NaCl Isotonik (0,9%). Dekstran 40 10% dalam NaCl 0,9%. Dekstran 75,6% dalam larutan NaCl 0,9%. Ringer, Ringer-laktat. Manitol – Rheo Macrodex dalam larutan HES (Hydroxyethyl Starch) 6%. Larutan injeksi piracetam stabil dalam infus di atas kurang dari 24 jam.
Efek samping:
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah dan gangguan tidur. Gangguan saluran cerna misalnya: nausea, muntah, diare, dan gastralgia. Yang jarang terjadi adalah pusing-pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido. Mulut kering, penambahan berat badan dan umumnya reaksi hipersensitivitas dermatologik.
Peringatan dan perhatian:
• Hati-hati pada penderita gangguan fungsi ginjal karena piracetam diekskresikan terutama melalui ginjal sehingga perlu dilakukan pengamatan fungsi ginjal.
• Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui. Perlu dilakukan evaluasi hasil yang didapat selama 3 bulan pertama kehamilan atau menyusui. Piracetam belum dinyatakan aman digunakan pada wanita hamil.
• Piracetam dapat melalui sawar plasenta.
Interaksi obat:
Pemberian bersama dengan ekstrak tiroid, menyebabkan confusion, iritabilitas dan gangguan tidur.
Kemasan dan nomor registrasi:
PIRACETAM injeksi; Kotak, 10 ampul @ 5 ml; GKL0305032343A1
PIRACETAM Injeksi; Kotak, 4 ampul @ 15 ml; GKL0305032343A1
PIRACETAM Infus; botol @ 60 ml; GKL0305032343A2
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
SIMPAN PADA SUHU KAMAR (25-30ÂșC), TERLINDUNG DARI CAHAYA.
Piracetam 1200 mg
Komposisi:
Tiap kaptab salut selaput mengandung piracetam 1200 mg.
Indikasi:
Gejala-gejala involusi yang berhubungan dengan usia lanjut seperti kemunduran daya pikir, astenia, gangguan adaptasi, reaksi psikomotorik yang terganggu.
Alkoholisme kronik dan adiksi
Pre-delirium, delirium tremens, gangguan fungsi dan kemunduran intelegensia yang diakibatkan oleh alkoholisme kronik (gangguan ingatan, konsentrasi pikiran, perhatian dan intelegensia), pengobatan detoksikasi (untuk gangguan karena penghentian obat secara mendadak, gangguan selera makan dan defisiensi).
Gejala paska-trauma:
Disfungsi serebral sehubungan dengan pasca-trauma (sakit kepala, vertigo, agitasi, gangguan ingatan dan astenia).
Dosis:
Gejala psikomotorik yang disebabkan oleh usia lanjut:
Dosis awal:
2,4 g (2 kaptab salut selaput 1200 mg) sehari selama 6 minggu. Dianjurkan dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan. Dosis pemeliharaan: 1,2 g sehari.
Gejala pasca trauma:
Pada umumnya diberikan dengan dosis 1,2 – 4,8 g/hari terbagi dalam 2 atau 3 dosis.
Lama Pengobatan:
Pada beberapa kasus akut, efek piracetam segera tampak, sedangkan pada kasus lainnya perbaikan biasanya terjadi pada minggu ketiga. Untuk mempercepat perbaikan, maka sebaiknya pengobatan dilanjutkan.
Kemasan:
Ktk 50
• Piracetam 200 mg/mL injeksi ( 1 box berisi 4 ampul @ 15 mL ), No. Reg : GKL0308509643A1.
• Piracetam 200 mg/mL injeksi ( 1 box berisi 10 ampul @ 5 mL ), No. Reg : GKL0308509643A1.
• Piracetam 400 mg tablet ( 1 box berisi 5 strip @ 10 tablet ), No. Reg : GKL0308508817A1
• Piracetam 800 mg kaplet ( 1 box berisi 5 strip @ 10 kaplet ), No. Reg : GKL0308508909A1
• Piracetam 1200 mg kaplet ( 1 box berisi 3 strip @ 10 kaplet, No. Reg : GKL0408508909B1
.: Indikasi :.
Sediaan injeksi : Pengobatan infark serebral.
Sediaan oral : Gejala involusi yang berhubungan dengan usia lanjut, alkoholisme kronik dan adiksi; dan gejala pasca trauma.
.: Kontra Indikasi :.
• Penderita dengan insufisiensi ginjal yang berat (bersihan kreatinin < 20 mL / min).
• Penderita yang hipersensitif terhadap piracetam atau derivat pirolidon lainnya, termasuk komponen obat.
• Penderita dengan cerebral haemorrhage.
.: Dosis :. Piracetam injeksi
• Dosis yang dianjurkan : 1 gram 3 x sehari, intravena.
Piracetam oral
• Simptom Psikis – Organik yang berhubungan dengan usia lanjut : Dosis awal perhari : 2,4 gram ( 6 tablet 400 mg atau 3 kaplet 800 mg atau 2 kaplet 1200 mg) terbagi dalam 2 – 3 waktu selama 6 minggu, diikuti dengan 1,2 gram / hari sebagai dosis perawatan.
• Simptom Post – Trauma : Dosis rata-rata : dosis awal : 2 tablet 400 mg atau 1 kaplet 800 mg, 3 kali sehari. Jika efek yang diharapkan telah tercapai, kurangi dosis secara bertahap menjadi 1 tablet 400 mg atau ½ kaplet 800 mg.
Lama pengobatan : Pada beberapa kasus akut, efek dari piracetam segera terlihat, sementara pada kasus lainnya, simptom mereda biasanya setelah minggu ketiga pemberian. Agar piracetam lebih efektif, pengobatan yang berkesinambungan sangat dianjurkan.
.: Efek Samping :.
Efek samping yang pernah dilaporkan selama pengobatan :
• Nervousness, irritabilitas, insomnia, anxietas, tremor dan agitasi. Pada beberapa pasien telah dilaporkan : fatigue dan somnolence.
• Gangguan gastro-intestinal (nausea, vomiting, diare, gastralgia, sakit kepala, dan vertigo) pernah dilaporkan. Efek samping lain yang kadang kala terjadi : mulut kering, meningkatnya libido, meningkatnya berat badan dan reaksi hipersensitif pada kulit.
.: Peringatan dan Perhatian :.
• Oleh karena piracetam seluruhnya dieliminasi melalui ginjal, peringatan harus diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal, oleh karena itu dianjurkan melakukan pengecekan fungsi ginjal.
• Oleh karena efek piracetam pada agregasi platelet, peringatan diberikan pada penderita dengan ganggguan hemostasis, operasi besar atau pendarahan berat.
• Hindari penghentian obat secara tiba-tiba, karena dapat menginduksi mioklonus atau kejang umum pada penderita mioklonus.
.: Interaksi Obat :. Pernah dilaporkan adanya satu kasus gangguan konfusi, irritabilitas, dan gangguan tidur, pada pemberian bersama dengan ekstrak tiroid ( T3+T4). .: Lain-lain :.
Penyimpanan:
Penyimpanan Piracetam injeksi pada suhu 15–25°C Penyimpanan Piracetam oral pada suhu 25–30°C
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
PIRACETAM 1200MG TAB@30 GHX
Kandungan
Piracetam
Indikasi
Gejala involusi yg berhubungan dg usia lanjut, astenia, alkoholisme kronis & adiksi, gejala pasca trauma
Kontra Indikasi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Efek Samping
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah, ggn tidur, mual, muntah, diare, gastralgia, pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan
Perhatian
Hipersensitif thd pirasetam, ggn fungsi ginjal, hamil, laktasi
Dosis
Oral Gejala psiko-organik sehubungan dg usia lanjut Awal 2.4 g/hr selama 6 minggu dilanjutkan dg dosis pemeliharaan 1.2 g/hr. Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 x/hr, bila efek yg diinginkan sdh diperoleh dosis dikurangi bertahap s/d 400 mg 3 x/hr
Interaksi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Kemasan
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
PIRACETAM 1200MG TAB@30 GHX
Kandungan
Piracetam
Indikasi
Gejala involusi yg berhubungan dg usia lanjut, astenia, alkoholisme kronis & adiksi, gejala pasca trauma
Kontra Indikasi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Efek Samping
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah, ggn tidur, mual, muntah, diare, gastralgia, pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan
Perhatian
Hipersensitif thd pirasetam, ggn fungsi ginjal, hamil, laktasi
Dosis
Oral Gejala psiko-organik sehubungan dg usia lanjut Awal 2.4 g/hr selama 6 minggu dilanjutkan dg dosis pemeliharaan 1.2 g/hr. Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 x/hr, bila efek yg diinginkan sdh diperoleh dosis dikurangi bertahap s/d 400 mg 3 x/hr
Interaksi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Kemasan
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
PIRACETAM 1200MG TAB@30 GHX
Kandungan
Piracetam
Indikasi
Gejala involusi yg berhubungan dg usia lanjut, astenia, alkoholisme kronis & adiksi, gejala pasca trauma
Kontra Indikasi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Efek Samping
Rasa gugup, agitasi, iritabilitas, rasa lelah, ggn tidur, mual, muntah, diare, gastralgia, pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan
Perhatian
Hipersensitif thd pirasetam, ggn fungsi ginjal, hamil, laktasi
Dosis
Oral Gejala psiko-organik sehubungan dg usia lanjut Awal 2.4 g/hr selama 6 minggu dilanjutkan dg dosis pemeliharaan 1.2 g/hr. Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 x/hr, bila efek yg diinginkan sdh diperoleh dosis dikurangi bertahap s/d 400 mg 3 x/hr
Interaksi
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
Kemasan
Ggn ginjal berat (bersihan kreatinin <20 mL/menit)
GOLONGAN GENERIK
Piracetam.
INDIKASI
Infark serebral. Gejala involusi yang berhubungan dengan usia lanjut (astenia, kemunduran daya pikir, gangguan adaptasi, gangguan reaksi psikomotorik, alkoholisme kronik dan adiksi, disfungsi serebral sehubungan dengan akibatpasca trauma (sakit kepala, vertigo, agitasi, gangguan ingatan, astenia).
KONTRA INDIKASI
gangguan ginjal berat (bersihan kreatinin kurang dari 20 mL/menit).Hipersensitif terhadap piracetam dan komponen obat ini.
PERHATIAN
Gangguan fungsi ginjal. Hamil, laktasi.
EFEK SAMPING
Agitasi, rasa gugup, iritabilitas, rasa lelah, gangguan tidur. Gangguan gastrointestinal (mual, muntah, diare, gastralgia), pusing, sakit kepala, tremor, peningkatan libido, kegelisahan ringan.
KEMASAN
Tablet salut selaput 800 mg x 5 x 10's.
DOSIS
Gejala psiko organik sehubungan usia lanjut Awal 2.4 g/hari terbagi dalam 2-3 dosis selama 6 minggu dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 1.2 g/hari.
Gejala pasca trauma Awal 800 mg 3 kali sehari, bila sudah didapat efek adekuat, kurangi dosis secara bertahap sampai dengan 400 mg 3 kali sehari.
# Lansia dan gangguan fungsi ginjal dengan bersihan40-60 mL/menit ½ dosis lazim.
# 20-40 mL/menit ¼ dosis lazim.
karbamazepin
Dwi Praniti
04.07.1567
akp7
Karbamazepin
Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia :5H-Dibenz[b1flazepina-5-karboksamida].
- Sifat Fisikokimia :Pemerian : Serbuk putih sampai hampir putih. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air; larut dalam etanol dan aseton (farmakope Indonesia ed.IV)
Golongan/Kelas Terapi
Antikonvulsi
Nama Dagang
Bamgetol
Cetazep Suppositoria
Teril
Karbamazepin (Generik)
tegretol
Indikasi
Epilepsi semua jenis,kecuali petit mal, neuralgia trigeminus; propilaksis pada manik depresif.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Penanganan Seizure :
Dosis untuk dewasa dan anak di atas 12 tahun adalah 200 mg 2 kali sehari atau 100 mg ), 4 kali sehari. Dosis dinaikkan sampai 200 mg, 3-4 kali sehari.
Dosis untuk anak 6-12 tahun adalah 100 mg, 2 kali sehari atau 50 mg, 4 kali sehari.
Dosis untuk anak di bawah 6 tahun adalah 10-20 mg/kg berat badan dalam 2-3 dosis terbagi.
Penanganan neuralgia trigeminus :
Dosis awal 100 mg, 2 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 200 mg setiap hari dengan peningkatan 100 mg setiap 12 jam untuk tablet atau peningkatan 50 mg, 4 kali sehari sampai rasa sakit hilang.(AHFS Drugs Information p.2144)
Farmakologi
Aksi farmakologi dari karbamazepin secara kualitatif mirip dengan antikonvulsan derivat hidantoin. Aktifitas antikonvulsan dari karbamazepin, seperti fenitoin, pada dasarnya dengan membatasi hantaran seizure dengan mengurangi potensiasi posttetanic (PTP) transmisi sinaps. Karbamazepin menghilangkan nyeri pada neuralgia trigeminal dengan mengurangi transmisi sinap di dalam nukleus trigeminal. Karbamazepin juga mempunyai efek sedatif, antikolinergik, antidepresan, relaksasi otot, antiaritmia, antidiuretik, dan aksi penghambatan transmisi neuromuskular. Karbamazepin hanya mempunyai efek analgesik ringan. (AHFS Drugs Information p. 2139).
Stabilitas Penyimpanan
Tablet karbamazepin, tablet lepas-lambat dan tablet kunyah harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat, tidak tembus cahaya dan pada temperatur tidak lebih dari 30°C (AHFS Drugs Information p. 2139)
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap karbamazepin, antidepresan trisiklik, atau komponen sediaan; depresi sumsum tulang belakang; (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 269)
Efek Samping
Biasanya dihubungkan dengan hipermagnesemia, mual, muntah, haus, flushing kulit, hipotensi, aritmia, koma, depresi nafas, ngantuk, bingung, hilang refleks tendon, lemah otot, kolik dan diare pada pemberian oral.
Interaksi
- Dengan Obat Lain :
Alkohol : Efek samping SSP dari Karbamazepin mungkin ditingkatkan.
Analgetik : dekstropropoksifen menaikkan efek karbamazepin; khasiat tramado diturunkan oleh karbamazepin
Antibakteri : metabolisme doksisiklin dipercepat (mengurangi efek); kadar plasma karbamazepin ditingkatkan oleh klaritromisin, eritromisin dan isoniazid (hepatoksisitas isoniazid mungkin juga meningkat)
Antikoagulan : metabolisme nikumalon dan warfarin dipercepat (mengurangi efek antikoagulan)
Antidepresan : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang diturunkan); kadar plasma karbamazepin ditingkatkan oleh fluoksetin, fluvoksamin, dan viloksazin; metabolisme mianserin dan trisiklik dipercepat (menurunkan kadar plasma); disarankan untuk menghindari pemakaian bersama MAOI atau dalam waktu 2 minggu setelah MAOI
Antiepileptika lain : pemberian bersama dua atau lebih obat antiepileptika dapat meningkatkan toksisitas tanpa diiringi peningkatan dalam efek antiepilepsi; selain itu interaksi antara masing-masing obat antiepilepsi mempersulit pemantauan pengobatan;interaksi termasuk peningkatan efek, peningkatan sedasi, dan penurunan kadar plasma
Antimalaria : klorokuin dan meflokuin melawan efek antikonvulsan
Antipsikotik : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang menurun); metabolisme haloperidol, olansapin dan sertindol dipercepat (menurunkan kadar plasma)
Antivirus : lihat Ritonavir
Antagonis-Kalsium : diltiazem dan dan verapamil menaikkan efek karbamazepin; efek felodopin, isradipin dan mungkin nikardipin dan nifedipin dikurangi.
Glikosida jantung : hanya metabolisme digitoksin yang dipercepat (mengurangi efek) Kortikosteroid : metabolisme dipercepat (menurunkan efek)Siklosporin : metabolisme dipercepat (menurunkan kadar plasma siklosporin)
Diuretik : meningkatkan risiko hipoatremia
Antgonisme Hormon : danazol menghambat metabolisme karbamazepin (meningkatkan efek); metabolisme toremifen mungkin dipercepat
Litium : dapat terjadi neurotoksisitas tanpa meningkatkan kadar plasma litium
Relaksan otot : efek relaksan otot non-depolarizing dilawan (kepulihan dari blok neuromuskular dipercepat)
Estrogen dan Progesteron : karbamazepin mempercepat metabolisme kontrasepsi oral (menurunkan efek konrasepsi)
Retinoid : Kadar plasma mungkin diturunkan oleh isotretinoin
Teofilin : metabolisme teofilin dipercepat (mengurangi efek)
Tiroksin : metabolisme teofilin dipercepat (dapat meningkatkan kebutuhan akan tiroksin pada hipotiroidisme)
Obat-obat Antiulkus : metabolisme dihambat oleh simetidin (menaikkan kadar plasma karbamazepin) Vitamin : karbamazepin mungkin menaikkan kebutuhan vitamin D (IONI, hal 487).
- Dengan Makanan : Kadar karbamazepin dalam darah dapat meningkat bila diberikan dengan jus grapefruit; hindari digunakan bersama-sama. (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 270)
Pengaruh
- Terhadap Kehamilan :
Faktor resiko D :
Ada bukti positif risiko kematian janin, tetapi jika manfaat pemberian melebihi risiko yang dapat ditimbulkan terhadap ibu hamil maka dapat digunakan (mis : jika obat dibutuhkan pada keadaan yang mengancam jiwa atau untuk penyakit yang serius dan tidak ada obat lain yang lebih aman untuk digunakan. Dapat menembus plasenta.
- Terhadap Ibu Menyusui : Terdistribusi dalam air susu ibu / tidak direkomendasikan. (AHFS Drugs Information p. 2158)
- Terhadap Hasil Laboratorium : Dapat berinteraksi dengan beberapa tes kehamilan, meningkatkan BUN, AST, ALT, bilirubin, alkalin fosfatase; menurunkan kalsium, T3, T4 dan natrium.
Parameter Monitoring
CBC dengan hitung platelet, retikulosit, kadar besi dalam darah, panel lipid, tes fungsi hati, urinalisis, BUN, kadar karbamazepin dalam serum, tes fungsi tiroid, kadar natrium dalam serum, pemeriksaan mata (refleks pupil); amati pasien yang mengalami sedasi yang berlebih, terutama saat dosis dinaikkan. (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 271)
Bentuk Sediaan
Tablet 125 mg, 250 mg, Tablet Kunyah, Tablet Lepas Lambat, Sirup
Peringatan
Gangguan hati atau gangguan ginjal, hamil, menyususi, hindari pemutusan obat mendadak, riwayat penyakit jantung, glaukoma, riwayat reaksi hematologik terhadap obat lain. (IONI hal 154)
Mekanisme Aksi
Selain sebagai antikonvulsan, karbamazepin mempunyai efek sebagai antikolinergik, antineuralgik, antidiuretik, pelemas otot, antimanic, antidepresif dan antiaritmia. Menekan aktifitas ventralis nukleus pada talamus atau menurunkan transmisi sinaptik atau menurunkan jumlah stimulasi temporal yang menyebabkan neural discharge dengan cara membatasi influks ion natrium yang menembus membran sel atau mekanisme lain yang belum diketahui; menstimulasi pelepasan ADH dan berpotensi meningkatkan kemampuan ADH untuk mereabsorpsi air; secara kimia terkait dengan antidepresan trisiklik. (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 270)
Daftar Pustaka
IONI
BNF
AHFS
LEXI-COMP'S Drug's Information Handbook
Peran dan Tanggung jawab perawat sehubungan dengan pemberian obat:
• Perawat harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang memadai mengenai obat.
• Mendukung keefektivitasan obat.
• Mengobservasi efek samping dan alergi obat
• Menyimpan, menyiapkan dan administrasi obat
• Melakukan pendidikan kesehatan tentang obat
• Perawatan, pemeliharaan dan pemberian banyak obat-obatan merupakan tanggung jawab besar bagi perawat.
Kesalahan dapat terjadi pada instruksi, pembagian, penamaan dan pengintrepretasian instruksi sesuai dengan penatalaksanaan obat.
Di RS : meskipun bagian farmasi yang bertanggung jawab untuk penyimpanan, penamaan dan distribusi obat ke ruangan merupakan tanggung jawab perawat
• Obat harus tidak diberikan perawat tanpa membawa resep tertulis kecuali pada saat kegawatan
Tanggung jawab ini hanya bisa dilimpahkan dengan persetujuan dari petugas yang memiliki wewenang.
Peran perawat dilihat dari batas kewenangannya sbb:
1.Peran independen: merupakan peran dimana perawat secara legal dapat melakukan tindakan secara mandiri
2.Peran dependen: Perawat tergantung kepada profesi lain
3.Peran Interdependen: (kolaborasi) peran dimana perawat melakukan tindakan terhadap masalah kesehatan yang memerlukan penanganan bersama.
Pengetahuan Farmakologi yang harus dimiliki perawat :
•Dosis
•Mekanisme Kerja Obat
•Mekanisme tubuh
•Efek Obat
•Efek Samping Obat
•Cara Pemberian obat
•Interaksi obat dengan bahan lain
•Makna pemberian obat
•Perilaku dan persepsi pasien dalam menerima terapi obat
Efek Obat :
• Efek terapeutik
efek yang dinginkan, efek utama
ex: morfin sulfat adalah analgetik,
diazepam mnghilangkan kcemasan
•Efek samping
efek yang tidak diinginkan, biasanya dapat diprediksi
ex: digitalis meningkatkan kekuatan kontraksi miokard tapi efek sampingnya mual muntah
• Toksisitas obat
efek yang merusak terhadap organisme aatau jaringan sebagai akibat overdosis
ex:depresi pernafasan akibat penumpukan morfin sulfat dalam tubuh.
• Alergi obat
Reaksi immunologi terhadap suatu obat.dapat ringan atau berat. Bervariasi mulai dari ruam kulit sampai diare berat yaitu syok anapilaktif
PEMBERIAN OBAT
Prinsip 5 Benar :
1. Benar order (dosisnya)
2. Benar obat
3. Benar pasien
4. Benar cara pemberian
5. Benar waktu pemberian
6. Benar pendokumentasiannya.
Pada dasarnya ada empat jenis order pengobatan:
1.Staat order (perintah segera), mendadak, cyto hanya berlaku satu kali
2.Single order (perintah tunggal), Satu kali pemberian pada saat tertentu, namun tidak segera diberikan. SA (Sulfa atropin) untuk persiapan operasi
3.Standing order (perintah tetap) jangka waktu tertentu, misalnya gentamicin 500 mg selama 7 hari pada pasien post op.
4.perintah kalau perlu diberikan jika dperlukan saja, ex: asam mefenamat untuk nyeri.
Daya kerja obat secara fisiologis
Faktor fisiologis yang mempengaruhi reaksi obat:
1.Absorpsi obat
Obat bergerak dari sumber ke dalam aliran darah, kecuali topical drugs
Faktor yang mempengaruh : Cara pemberian, jenis obat, makanan,keadaan pasien.
2.Pergerakan obat dalam tubuh.
Absorpsi darah dan di dalam limfatik, ke luar melalui sel, masuk ke jaringan
Faktor yang mempengaruhi sirkulasi cairan tubuh:
Keseimbangan cairan dan elektrolit
Cardiac patologik
3.Metabolisme obat
Sirkulasi obat jaringan berinteraksi dengan sel perubahan zat kimia menjadi lebih efektif bereaksi diekskresi hati darah mucosa usus, dan ginjal
4.Ekskresi obat
Obat setelah bereaksi keluar melalui
Ginjal (urine)
Intestinal (Faeces)
Paru-paru (udara)
Yang mempengaruhi reaksi obat:
•Usia dan BB
•Jenis kelamin
•Faktor psikologis
•Kondisi sakit kronik
•Waktu dan cara pemberian
•Lingkungan
Daftar pustaka
http://www.google.co.id/search?hl=id&biw=994&bih=401&&sa=X&ei=0nzFTOumN4mMvQOk7ISvCA&ved=0CCsQBSgA&q=karbamazepin&spell=1
http://meetabied.blogspot.com/2010/03/hal-hal-yang-perlu-diketahui-dalam.html
04.07.1567
akp7
Karbamazepin
Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia :5H-Dibenz[b1flazepina-5-karboksamida].
- Sifat Fisikokimia :Pemerian : Serbuk putih sampai hampir putih. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air; larut dalam etanol dan aseton (farmakope Indonesia ed.IV)
Golongan/Kelas Terapi
Antikonvulsi
Nama Dagang
Bamgetol
Cetazep Suppositoria
Teril
Karbamazepin (Generik)
tegretol
Indikasi
Epilepsi semua jenis,kecuali petit mal, neuralgia trigeminus; propilaksis pada manik depresif.
Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
Penanganan Seizure :
Dosis untuk dewasa dan anak di atas 12 tahun adalah 200 mg 2 kali sehari atau 100 mg ), 4 kali sehari. Dosis dinaikkan sampai 200 mg, 3-4 kali sehari.
Dosis untuk anak 6-12 tahun adalah 100 mg, 2 kali sehari atau 50 mg, 4 kali sehari.
Dosis untuk anak di bawah 6 tahun adalah 10-20 mg/kg berat badan dalam 2-3 dosis terbagi.
Penanganan neuralgia trigeminus :
Dosis awal 100 mg, 2 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 200 mg setiap hari dengan peningkatan 100 mg setiap 12 jam untuk tablet atau peningkatan 50 mg, 4 kali sehari sampai rasa sakit hilang.(AHFS Drugs Information p.2144)
Farmakologi
Aksi farmakologi dari karbamazepin secara kualitatif mirip dengan antikonvulsan derivat hidantoin. Aktifitas antikonvulsan dari karbamazepin, seperti fenitoin, pada dasarnya dengan membatasi hantaran seizure dengan mengurangi potensiasi posttetanic (PTP) transmisi sinaps. Karbamazepin menghilangkan nyeri pada neuralgia trigeminal dengan mengurangi transmisi sinap di dalam nukleus trigeminal. Karbamazepin juga mempunyai efek sedatif, antikolinergik, antidepresan, relaksasi otot, antiaritmia, antidiuretik, dan aksi penghambatan transmisi neuromuskular. Karbamazepin hanya mempunyai efek analgesik ringan. (AHFS Drugs Information p. 2139).
Stabilitas Penyimpanan
Tablet karbamazepin, tablet lepas-lambat dan tablet kunyah harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat, tidak tembus cahaya dan pada temperatur tidak lebih dari 30°C (AHFS Drugs Information p. 2139)
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap karbamazepin, antidepresan trisiklik, atau komponen sediaan; depresi sumsum tulang belakang; (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 269)
Efek Samping
Biasanya dihubungkan dengan hipermagnesemia, mual, muntah, haus, flushing kulit, hipotensi, aritmia, koma, depresi nafas, ngantuk, bingung, hilang refleks tendon, lemah otot, kolik dan diare pada pemberian oral.
Interaksi
- Dengan Obat Lain :
Alkohol : Efek samping SSP dari Karbamazepin mungkin ditingkatkan.
Analgetik : dekstropropoksifen menaikkan efek karbamazepin; khasiat tramado diturunkan oleh karbamazepin
Antibakteri : metabolisme doksisiklin dipercepat (mengurangi efek); kadar plasma karbamazepin ditingkatkan oleh klaritromisin, eritromisin dan isoniazid (hepatoksisitas isoniazid mungkin juga meningkat)
Antikoagulan : metabolisme nikumalon dan warfarin dipercepat (mengurangi efek antikoagulan)
Antidepresan : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang diturunkan); kadar plasma karbamazepin ditingkatkan oleh fluoksetin, fluvoksamin, dan viloksazin; metabolisme mianserin dan trisiklik dipercepat (menurunkan kadar plasma); disarankan untuk menghindari pemakaian bersama MAOI atau dalam waktu 2 minggu setelah MAOI
Antiepileptika lain : pemberian bersama dua atau lebih obat antiepileptika dapat meningkatkan toksisitas tanpa diiringi peningkatan dalam efek antiepilepsi; selain itu interaksi antara masing-masing obat antiepilepsi mempersulit pemantauan pengobatan;interaksi termasuk peningkatan efek, peningkatan sedasi, dan penurunan kadar plasma
Antimalaria : klorokuin dan meflokuin melawan efek antikonvulsan
Antipsikotik : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang menurun); metabolisme haloperidol, olansapin dan sertindol dipercepat (menurunkan kadar plasma)
Antivirus : lihat Ritonavir
Antagonis-Kalsium : diltiazem dan dan verapamil menaikkan efek karbamazepin; efek felodopin, isradipin dan mungkin nikardipin dan nifedipin dikurangi.
Glikosida jantung : hanya metabolisme digitoksin yang dipercepat (mengurangi efek) Kortikosteroid : metabolisme dipercepat (menurunkan efek)Siklosporin : metabolisme dipercepat (menurunkan kadar plasma siklosporin)
Diuretik : meningkatkan risiko hipoatremia
Antgonisme Hormon : danazol menghambat metabolisme karbamazepin (meningkatkan efek); metabolisme toremifen mungkin dipercepat
Litium : dapat terjadi neurotoksisitas tanpa meningkatkan kadar plasma litium
Relaksan otot : efek relaksan otot non-depolarizing dilawan (kepulihan dari blok neuromuskular dipercepat)
Estrogen dan Progesteron : karbamazepin mempercepat metabolisme kontrasepsi oral (menurunkan efek konrasepsi)
Retinoid : Kadar plasma mungkin diturunkan oleh isotretinoin
Teofilin : metabolisme teofilin dipercepat (mengurangi efek)
Tiroksin : metabolisme teofilin dipercepat (dapat meningkatkan kebutuhan akan tiroksin pada hipotiroidisme)
Obat-obat Antiulkus : metabolisme dihambat oleh simetidin (menaikkan kadar plasma karbamazepin) Vitamin : karbamazepin mungkin menaikkan kebutuhan vitamin D (IONI, hal 487).
- Dengan Makanan : Kadar karbamazepin dalam darah dapat meningkat bila diberikan dengan jus grapefruit; hindari digunakan bersama-sama. (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 270)
Pengaruh
- Terhadap Kehamilan :
Faktor resiko D :
Ada bukti positif risiko kematian janin, tetapi jika manfaat pemberian melebihi risiko yang dapat ditimbulkan terhadap ibu hamil maka dapat digunakan (mis : jika obat dibutuhkan pada keadaan yang mengancam jiwa atau untuk penyakit yang serius dan tidak ada obat lain yang lebih aman untuk digunakan. Dapat menembus plasenta.
- Terhadap Ibu Menyusui : Terdistribusi dalam air susu ibu / tidak direkomendasikan. (AHFS Drugs Information p. 2158)
- Terhadap Hasil Laboratorium : Dapat berinteraksi dengan beberapa tes kehamilan, meningkatkan BUN, AST, ALT, bilirubin, alkalin fosfatase; menurunkan kalsium, T3, T4 dan natrium.
Parameter Monitoring
CBC dengan hitung platelet, retikulosit, kadar besi dalam darah, panel lipid, tes fungsi hati, urinalisis, BUN, kadar karbamazepin dalam serum, tes fungsi tiroid, kadar natrium dalam serum, pemeriksaan mata (refleks pupil); amati pasien yang mengalami sedasi yang berlebih, terutama saat dosis dinaikkan. (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 271)
Bentuk Sediaan
Tablet 125 mg, 250 mg, Tablet Kunyah, Tablet Lepas Lambat, Sirup
Peringatan
Gangguan hati atau gangguan ginjal, hamil, menyususi, hindari pemutusan obat mendadak, riwayat penyakit jantung, glaukoma, riwayat reaksi hematologik terhadap obat lain. (IONI hal 154)
Mekanisme Aksi
Selain sebagai antikonvulsan, karbamazepin mempunyai efek sebagai antikolinergik, antineuralgik, antidiuretik, pelemas otot, antimanic, antidepresif dan antiaritmia. Menekan aktifitas ventralis nukleus pada talamus atau menurunkan transmisi sinaptik atau menurunkan jumlah stimulasi temporal yang menyebabkan neural discharge dengan cara membatasi influks ion natrium yang menembus membran sel atau mekanisme lain yang belum diketahui; menstimulasi pelepasan ADH dan berpotensi meningkatkan kemampuan ADH untuk mereabsorpsi air; secara kimia terkait dengan antidepresan trisiklik. (Lexi-Comps Drug Information Handbook p. 270)
Daftar Pustaka
IONI
BNF
AHFS
LEXI-COMP'S Drug's Information Handbook
Peran dan Tanggung jawab perawat sehubungan dengan pemberian obat:
• Perawat harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang memadai mengenai obat.
• Mendukung keefektivitasan obat.
• Mengobservasi efek samping dan alergi obat
• Menyimpan, menyiapkan dan administrasi obat
• Melakukan pendidikan kesehatan tentang obat
• Perawatan, pemeliharaan dan pemberian banyak obat-obatan merupakan tanggung jawab besar bagi perawat.
Kesalahan dapat terjadi pada instruksi, pembagian, penamaan dan pengintrepretasian instruksi sesuai dengan penatalaksanaan obat.
Di RS : meskipun bagian farmasi yang bertanggung jawab untuk penyimpanan, penamaan dan distribusi obat ke ruangan merupakan tanggung jawab perawat
• Obat harus tidak diberikan perawat tanpa membawa resep tertulis kecuali pada saat kegawatan
Tanggung jawab ini hanya bisa dilimpahkan dengan persetujuan dari petugas yang memiliki wewenang.
Peran perawat dilihat dari batas kewenangannya sbb:
1.Peran independen: merupakan peran dimana perawat secara legal dapat melakukan tindakan secara mandiri
2.Peran dependen: Perawat tergantung kepada profesi lain
3.Peran Interdependen: (kolaborasi) peran dimana perawat melakukan tindakan terhadap masalah kesehatan yang memerlukan penanganan bersama.
Pengetahuan Farmakologi yang harus dimiliki perawat :
•Dosis
•Mekanisme Kerja Obat
•Mekanisme tubuh
•Efek Obat
•Efek Samping Obat
•Cara Pemberian obat
•Interaksi obat dengan bahan lain
•Makna pemberian obat
•Perilaku dan persepsi pasien dalam menerima terapi obat
Efek Obat :
• Efek terapeutik
efek yang dinginkan, efek utama
ex: morfin sulfat adalah analgetik,
diazepam mnghilangkan kcemasan
•Efek samping
efek yang tidak diinginkan, biasanya dapat diprediksi
ex: digitalis meningkatkan kekuatan kontraksi miokard tapi efek sampingnya mual muntah
• Toksisitas obat
efek yang merusak terhadap organisme aatau jaringan sebagai akibat overdosis
ex:depresi pernafasan akibat penumpukan morfin sulfat dalam tubuh.
• Alergi obat
Reaksi immunologi terhadap suatu obat.dapat ringan atau berat. Bervariasi mulai dari ruam kulit sampai diare berat yaitu syok anapilaktif
PEMBERIAN OBAT
Prinsip 5 Benar :
1. Benar order (dosisnya)
2. Benar obat
3. Benar pasien
4. Benar cara pemberian
5. Benar waktu pemberian
6. Benar pendokumentasiannya.
Pada dasarnya ada empat jenis order pengobatan:
1.Staat order (perintah segera), mendadak, cyto hanya berlaku satu kali
2.Single order (perintah tunggal), Satu kali pemberian pada saat tertentu, namun tidak segera diberikan. SA (Sulfa atropin) untuk persiapan operasi
3.Standing order (perintah tetap) jangka waktu tertentu, misalnya gentamicin 500 mg selama 7 hari pada pasien post op.
4.perintah kalau perlu diberikan jika dperlukan saja, ex: asam mefenamat untuk nyeri.
Daya kerja obat secara fisiologis
Faktor fisiologis yang mempengaruhi reaksi obat:
1.Absorpsi obat
Obat bergerak dari sumber ke dalam aliran darah, kecuali topical drugs
Faktor yang mempengaruh : Cara pemberian, jenis obat, makanan,keadaan pasien.
2.Pergerakan obat dalam tubuh.
Absorpsi darah dan di dalam limfatik, ke luar melalui sel, masuk ke jaringan
Faktor yang mempengaruhi sirkulasi cairan tubuh:
Keseimbangan cairan dan elektrolit
Cardiac patologik
3.Metabolisme obat
Sirkulasi obat jaringan berinteraksi dengan sel perubahan zat kimia menjadi lebih efektif bereaksi diekskresi hati darah mucosa usus, dan ginjal
4.Ekskresi obat
Obat setelah bereaksi keluar melalui
Ginjal (urine)
Intestinal (Faeces)
Paru-paru (udara)
Yang mempengaruhi reaksi obat:
•Usia dan BB
•Jenis kelamin
•Faktor psikologis
•Kondisi sakit kronik
•Waktu dan cara pemberian
•Lingkungan
Daftar pustaka
http://www.google.co.id/search?hl=id&biw=994&bih=401&&sa=X&ei=0nzFTOumN4mMvQOk7ISvCA&ved=0CCsQBSgA&q=karbamazepin&spell=1
http://meetabied.blogspot.com/2010/03/hal-hal-yang-perlu-diketahui-dalam.html
PIROXICAM
DESKRIPSI:
Piroksikam adalah obat antiinflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas antiinflamasi, analgetik – antipiretik. Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi beberapa tahap respon imun dan inflamasi, antara lain : penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglandin, penghambatan pengumpulan netrofil dalam pembuluh darah, serta penghambatan migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi.
INDIKASI:
Terapi simptomatik rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, gangguan muskuloskeletal akut dan gout akut.
KONTRA INDIKASI:
Penderita yang hipersensitif terhadap piroksikam dan penderita yang mengalami urtikaria, angioderma, bronkospasme, rinitis berat dan syok akibat Antiinflamasi Nonsteroid Agent.
KOMPOSISI:
Tiap kapsul mengandung 10 mg piroksikam.
Tiap kapsul mengandung 20 mg piroksikam.
CARA KERJA OBAT:
Piroksikam adalah obat antiinflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas antiinflamasi, analgetik - antipiretik. Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi beberapa tahap respons imun dan inflamasi, antara lain: penghambat enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglanin, penghambat pengumpulan netrofil dalam pembuluh darah, serta penghambat migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi.
DOSIS:
Dewasa: Rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, dosis awal 20 mg dalam dosis tunggal.
Gout akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 4 - 6 hari.
Gangguan muskuloskeletal akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 2 hari, selanjutnya 20 mg sehari dalam dosis tunggal selama 7 - 14 hari.
Dosis untuk anak belum diketahui.
PERINGATAN DAN PERHATIAN:
Tidak dianjurkan pemberian pada wanita hamil dan menyusui. Hati-hati pemberian pada gangguan pencernaan, jantung, hipertensi dan keadaan predesposisi retensi air, ginjal dan hati.
Kemanan penggunaan untuk anak-anak belum diketahui dengan pasti.
EFEK SAMPING:
Keluhan gastrointestinal, misalnya anoreksia, nyeri perut, konstipasi, diare, flatulen, mual, muntah, perforasi, tukak lambung dan duodenum. Gangguan hematologik seperti trombositopenia, depresi sumsum tulang.
Gangguan kulit: eritema, dermatitis eksfoliatif, sindroma Stevens-Johnson.
Gangguan Saraf pusat: sakit kepala, pusing, depresi, insomnia, gugup.
Efek samping lain seperti hiperkalemia, sindroma nefrotuk, nyeri, demam, penglihatan kabur, hipertensi dan reaksi hipersensitif.
INTERAKSI OBAT:
Pemberian piroksikam bersama antikoagulan oral, sulfonil urea atau salisilat harus hati-hati dan dipantau.
Asetosal dan piroksikam tidak boleh diberikan secara bersama-sama.
Piroksikam dilaporkan dapat meningkatkan kadar litium dalam darah.
CARA PENYIMPANAN:
Simpan ditempat sejuk dan kering.
JENIS: Tablet
TANGGUNG JAWAB PERAWAT DALAM PEMBERIAN OBAT PADA PASIEN
Pendahuluan
Perawat bertanggung-jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman. Caranya adalah perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap/jelas atau dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Secara hukum perawat bertanggung iawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien. Perawat wajib membaca buku-buku refrensi obat untuk mendapatkan kejelasan mengenai efek terapiutik yang yang diharapkan, kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi atau reaksi yang merugikan dari pengobatan.
Menggambarkan 6 B dalam pemberian obat.
Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman, seorang perawat harus dapat melakukan 6 hal yangt benar; klien yang benar, obat yang benar, dosis yang benar, waktu yang benar, rute yang benar, dan dokumentasi yang benar.
SITI RUKOYAH
A/KP/VII
04.07 1598
Piroksikam adalah obat antiinflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas antiinflamasi, analgetik – antipiretik. Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi beberapa tahap respon imun dan inflamasi, antara lain : penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglandin, penghambatan pengumpulan netrofil dalam pembuluh darah, serta penghambatan migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi.
INDIKASI:
Terapi simptomatik rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, gangguan muskuloskeletal akut dan gout akut.
KONTRA INDIKASI:
Penderita yang hipersensitif terhadap piroksikam dan penderita yang mengalami urtikaria, angioderma, bronkospasme, rinitis berat dan syok akibat Antiinflamasi Nonsteroid Agent.
KOMPOSISI:
Tiap kapsul mengandung 10 mg piroksikam.
Tiap kapsul mengandung 20 mg piroksikam.
CARA KERJA OBAT:
Piroksikam adalah obat antiinflamasi non steroid yang mempunyai aktifitas antiinflamasi, analgetik - antipiretik. Aktifitas kerja piroksikam belum sepenuhnya diketahui, diperkirakan melalui interaksi beberapa tahap respons imun dan inflamasi, antara lain: penghambat enzim siklo-oksigenase pada biosintesa prostaglanin, penghambat pengumpulan netrofil dalam pembuluh darah, serta penghambat migrasi polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke daerah inflamasi.
DOSIS:
Dewasa: Rematoid artritis, osteoartritis, ankilosing spondilitis, dosis awal 20 mg dalam dosis tunggal.
Gout akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 4 - 6 hari.
Gangguan muskuloskeletal akut, 40 mg sehari dalam dosis tunggal selama 2 hari, selanjutnya 20 mg sehari dalam dosis tunggal selama 7 - 14 hari.
Dosis untuk anak belum diketahui.
PERINGATAN DAN PERHATIAN:
Tidak dianjurkan pemberian pada wanita hamil dan menyusui. Hati-hati pemberian pada gangguan pencernaan, jantung, hipertensi dan keadaan predesposisi retensi air, ginjal dan hati.
Kemanan penggunaan untuk anak-anak belum diketahui dengan pasti.
EFEK SAMPING:
Keluhan gastrointestinal, misalnya anoreksia, nyeri perut, konstipasi, diare, flatulen, mual, muntah, perforasi, tukak lambung dan duodenum. Gangguan hematologik seperti trombositopenia, depresi sumsum tulang.
Gangguan kulit: eritema, dermatitis eksfoliatif, sindroma Stevens-Johnson.
Gangguan Saraf pusat: sakit kepala, pusing, depresi, insomnia, gugup.
Efek samping lain seperti hiperkalemia, sindroma nefrotuk, nyeri, demam, penglihatan kabur, hipertensi dan reaksi hipersensitif.
INTERAKSI OBAT:
Pemberian piroksikam bersama antikoagulan oral, sulfonil urea atau salisilat harus hati-hati dan dipantau.
Asetosal dan piroksikam tidak boleh diberikan secara bersama-sama.
Piroksikam dilaporkan dapat meningkatkan kadar litium dalam darah.
CARA PENYIMPANAN:
Simpan ditempat sejuk dan kering.
JENIS: Tablet
TANGGUNG JAWAB PERAWAT DALAM PEMBERIAN OBAT PADA PASIEN
Pendahuluan
Perawat bertanggung-jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman. Caranya adalah perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap/jelas atau dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Secara hukum perawat bertanggung iawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien. Perawat wajib membaca buku-buku refrensi obat untuk mendapatkan kejelasan mengenai efek terapiutik yang yang diharapkan, kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi atau reaksi yang merugikan dari pengobatan.
Menggambarkan 6 B dalam pemberian obat.
Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman, seorang perawat harus dapat melakukan 6 hal yangt benar; klien yang benar, obat yang benar, dosis yang benar, waktu yang benar, rute yang benar, dan dokumentasi yang benar.
SITI RUKOYAH
A/KP/VII
04.07 1598
ALPENTIN
ALPENTIN 100 MG
Harga Per Satuan Terkecil : Rp4,150.00
BELI
ALPENTIN 100 MG
KANDUNGAN :
Setiap kapsul mengandung Gabapentin 100 mg
INDIKASI :
- Terapi tambahan untuk kejang parsial & kejang parsial dengan generalisasi sekunder pada pasien yang tidak dapatdikendalikan dengan antikonvulsan standar atau intoleran terhadap dosis terapeutik obat tersebut.
- Untuk terapi kejang parsial sederhana & kompleks, terutama kejang tonik-klonik umum sekunder.
PERHATIAN :
- Hentikan secara bertahap selama minimal 1 minggu.
- Dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.
- Hamil, laktasi.
- Anak < 12 tahun. EFEK SAMPING : Somnolen, pusing, ataksia, lelah, nistagmus, sakit kepala, tremor, mual, muntah, diplopia, ambliopia, rinitis. INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL : C: Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin. KEMASAN : Box 5 blister @ 10 kapsul,DKL 060551410B1 DOSIS Dewasa & anak > 12 tahun 900-1800 mg/hari. Hari ke-1: 300 mg 1 x sehari. Hari ke-2: 300 mg 2 x sehari. Hari ke-3: 300 mg 3 x sehari. Selanjutnya, dosis dapat ditingkatkan sampai dengan 1200 mg/hari diberikan dalam 3 dosis terbagi. Peningkatan dosis lebih lanjut dapat dilakukan dengan peningkatan sebesar 300 mg/hari, diberikan dalam 3 dosis terbagi. Maksimal: 2400 mg/hari.
Pasien gagal ginjal dengan bersihan kreatinin > 60 ml/menit 400 mg 3 x sehari, 30-60 ml/menit 300 mg 1 x sehari, 15-30 ml/menit 300 mg 1 x sehari, > 15 ml/menit 300 mg tiap 2 hari sekali.
Pasien yang menjalani hemodialisis Awal 300-400 mg/hari. Dosis pemeliharaan: 200-300 mg, berikan 4 jam sesudah hemodialisis.
SAYU RISKI
A/KP/VII
04.07.1594
Harga Per Satuan Terkecil : Rp4,150.00
BELI
ALPENTIN 100 MG
KANDUNGAN :
Setiap kapsul mengandung Gabapentin 100 mg
INDIKASI :
- Terapi tambahan untuk kejang parsial & kejang parsial dengan generalisasi sekunder pada pasien yang tidak dapatdikendalikan dengan antikonvulsan standar atau intoleran terhadap dosis terapeutik obat tersebut.
- Untuk terapi kejang parsial sederhana & kompleks, terutama kejang tonik-klonik umum sekunder.
PERHATIAN :
- Hentikan secara bertahap selama minimal 1 minggu.
- Dapat mengganggu kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.
- Hamil, laktasi.
- Anak < 12 tahun. EFEK SAMPING : Somnolen, pusing, ataksia, lelah, nistagmus, sakit kepala, tremor, mual, muntah, diplopia, ambliopia, rinitis. INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL : C: Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin. KEMASAN : Box 5 blister @ 10 kapsul,DKL 060551410B1 DOSIS Dewasa & anak > 12 tahun 900-1800 mg/hari. Hari ke-1: 300 mg 1 x sehari. Hari ke-2: 300 mg 2 x sehari. Hari ke-3: 300 mg 3 x sehari. Selanjutnya, dosis dapat ditingkatkan sampai dengan 1200 mg/hari diberikan dalam 3 dosis terbagi. Peningkatan dosis lebih lanjut dapat dilakukan dengan peningkatan sebesar 300 mg/hari, diberikan dalam 3 dosis terbagi. Maksimal: 2400 mg/hari.
Pasien gagal ginjal dengan bersihan kreatinin > 60 ml/menit 400 mg 3 x sehari, 30-60 ml/menit 300 mg 1 x sehari, 15-30 ml/menit 300 mg 1 x sehari, > 15 ml/menit 300 mg tiap 2 hari sekali.
Pasien yang menjalani hemodialisis Awal 300-400 mg/hari. Dosis pemeliharaan: 200-300 mg, berikan 4 jam sesudah hemodialisis.
SAYU RISKI
A/KP/VII
04.07.1594
Rabu, 20 Oktober 2010
DIAZEPAM
Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine dengan rumus molekul 7-kloro-1,3-dihidro-1-metil-5-fenil-2H-1,4-benzodiazepin-2-on
SEDIAAN
tablet, injeksi dan gel rectal, dalam berbagai dosis sediaan.
Beberapa contoh nama dagang diazepam dipasaran yaitu Stesolid®, Valium®, Validex® dan Valisanbe®, untuk sediaan tunggal dan Neurodial®, Metaneuron® dan Danalgin®, untuk sediaan kombinasi dengan metampiron dalam bentuk sediaan tablet.
EFEK SAMPING
- Efek samping yang sering terjadi, seperti : pusing, mengantuk
- Efek samping yang jarang terjadi, seperti : Depresi, Impaired Cognition
- Efek samping yang jarang sekali terjadi,seperti : reaksi alergi, amnesia, anemia, angioedema, behavioral disorders, blood dyscrasias, blurred vision, kehilangan keseimbangan, constipation, coordination changes, diarrhea, disease of liver, drug dependence, dysuria, extrapyramidal disease, false Sense of well-being, fatigue, general weakness, headache disorder, hypotension, Increased bronchial secretions, leukopenia, libido changes, muscle spasm, muscle weakness, nausea, neutropenia disorder, polydipsia, pruritus of skin, seizure disorder, sialorrhea, skin rash, sleep automatism, tachyarrhythmia, trombositopenia, tremors, visual changes, vomiting, xerostomia.
MEKANISME KERJA
Bekerja pada sistem GABA, yaitu dengan memperkuat fungsi hambatan neuron GABA. Reseptor Benzodiazepin dalam seluruh sistem saraf pusat, terdapat dengan kerapatan yang tinggi terutama dalam korteks otak frontal dan oksipital, di hipokampus dan dalam otak kecil. Pada reseptor ini, benzodiazepin akan bekerja sebagai agonis. Terdapat korelasi tinggi antara aktivitas farmakologi berbagai benzodiazepin dengan afinitasnya pada tempat ikatan. Dengan adanya interaksi benzodiazepin, afinitas GABA terhadap reseptornya akan meningkat, dan dengan ini kerja GABA akan meningkat. Dengan aktifnya reseptor GABA, saluran ion klorida akan terbuka sehingga ion klorida akan lebih banyak yang mengalir masuk ke dalam sel. Meningkatnya jumlah ion klorida menyebabkan hiperpolarisasi sel bersangkutan dan sebagai akibatnya, kemampuan sel untuk dirangsang berkurang.
INDIKASI
Diazepam digunakan untuk memperpendek mengatasi gejala yang timbul seperti gelisah yang berlebihan, diazepam juga dapat diinginkan untuk gemeteran, kegilaan dan dapat menyerang secara tiba-tiba. Halusinasi sebagai akibat mengkonsumsi alkohol. diazepam juga dapat digunakan untuk kejang otot, kejang otot merupakan penyakit neurologi. dizepam digunakan sebagai obat penenang dan dapat juga dikombinasikan dengan obat lain.
KONTRA INDIKASI
- Hipersensitivitas
- Sensitivitas silang dengan benzodiazepin lain
- Pasien koma
- Depresi SSP yang sudah ada sebelumnya
- Nyeri berat tak terkendali
- Glaukoma sudut sempit
- Kehamilan atau laktasi
- Diketahui intoleran terhadap alkohol atau glikol propilena (hanya injeksi)
DOSIS & RUTE
- Antiansietas, Antikonvulsan.
- PO (Dewasa) : 2-10 mg 2-4 kali sehari atau 15-30 mg bentuk lepas lambat sekali sehari.
- PO (anak-anak > 6 bulan) : 1-2,5 mg 3-4 kali sehari.
- IM, IV (Dewasa) : 2-10 mg, dapat diulang dalam 3-4 jam bila perlu.
- Pra-kardioversi IV (Dewasa) : 5-15 mg 5-10 menit prakardioversi.
- Pra-endoskopi
- IV (Dewasa) : sampai 20 mg.
- IM (Dewasa) : 5-10 mg 30 menit pra-endoskopi.
- Status Epileptikus
- IV (Dewasa) : 5-10 mg, dapat diulang tiap 10-15 menit total 30 mg, program pengobatan ini dapat diulang kembali dalam 2-4 jam (rute IM biasanya digunakan bila rute IV tidak tersedia).
- IM, IV (Anak-anak > 5 tahun) : 1 mg tiap 2-5 menit total 10 mg, diulang tiap 2-4 jam.
- IM, IV (Anak-anak 1 bulan – 5 tahun) : 0,2-0,5 mg tiap 2-5 menit sampai maksimum 5 mg, dapat diulang tiap 2-4 jam.
- Rektal (Dewasa) : 0,15-0,5 mg/kg (sampai 20 mg/dosis).
- Rektal (Geriatrik) : 0,2-0,3 mg/kg.
- Rektal (Anak-anak) : 0,2-0,5 mg/kg.
- Relaksasi Otot Skelet
- PO (Dewasa) : 2-10 mg 3-4 kali sehari atau 15-30 mg bentuk lepas lambat satu kali sehari. 2-2,5 mg 1-2 kali sehari diawal pada lansia atau pasien yang sangat lemah.
- IM, IV (Dewasa) : 5-10 mg (2-5 mg pada pasien yang sangat lemah) dapat diulang dalam 2-4 jam.
- Putus Alkohol
- PO (Dewasa) : 10 mg 3-4 kali pada 24 jam pertama, diturunkan sampai 5 mg 3-4 kali sehari.
- IM, IV (Dewasa) : 10 mg di awal, keudian 5-10 mg dalam 3-4 jam sesuai keperluan.
PERHATIAN PERAWAT
- Perawat harus tau diazepam tidak dianjurkan untuk ibu hamil karena dapat sangat berpengaruh pada janin. Kemampuan diazepam untuk melalui plasenta tergantung pada derajat relativitas dari ikatan protein pada ibu dan janin. Hal ini juga berpengaruh pada tiap tingkatan kehamilan dan konsentrasi asam lemak bebas plasenta pada ibu dan janin. Efek samping yang dapat timbul pada bayi neonatus selama beberapa hari setelah kelahiran disebabkan oleh enzim metabolism obat yang belum lengakp. Kompetisi antara diazepam dan bilirubin pada sisi ikatan protein dapat menyebabkan hiperbilirubinemia pada bayi neonatus.
- Kolaborasi dengan dokter jika menggunakan diazepam.
- Menghindari penggunaan pada pasien dengan depresi CNS atau koma, depresi pernafasan, insufisiensi pulmonari akut,, miastenia gravis, dan sleep apnoea
- Hati-hati menggunaan pada pasien dengan kelemahan otot serta penderita gangguan hati atau ginjal, pasien lanjut usia dan lemah.
- Diazepam tidak sesuai untuk pengobatan psikosis kronik atau obsesional states.
- Memperhatikan dosis dan rute obat
REFRENSI
- Laurent C. Galichet, 2005, Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons 3rd Edition (Electronic Version), Pharmaceutical Press, London.
- Sean C. Sweetman, et.all., 2007, Martindale : The Complete Drugs Reference 35th Edition (Electronic Version), Pharmaceutical Press, London.
- Barbara G. Wells, et.all., 2006, Pharmacotherapy Handbook 6th Edition (Electronic Version), Mc Graw-Hill Book Company, New York.
- Ernst Mutschler, 1986, Dinamika Obat ; Farmakologi dan Toksikologi (terjemahan), ITB, Bandung.
- Alfred Goodman Gilman, 2006, Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics 11th Edition (electronic Version), Mc-Graw Hill Medical Publishing Division, New York.
- Diazepam – oral Index, www.MediciNet.com
- Diazepam, www.mentalhealth.com
- Valium, www.rxlist.com
- Diazepam, www.rerarosalina.blogspot.com
OLEH:
FARADIAN FAJRI
04.07.1573
04.07.1573
A/KP 7
Kamis, 01 Juli 2010
Kisi-kisi
Hormone hipofise, gambaran klinis sindrom chusing, data volume cairan kurang dari kebutuhan pada klien diabetes insipidus, intervensi pembedahan tumor hipofise, tanggung jawab perawat klien chemotherapy.
Pengkajian pada pasien di poli kulit, Steven jonhson dan diagnosa keperawatan, luka bakar dan cara menentukan derajat, manajemen acne vulgaris, stroke dan penanganannya.
Pengkajian pada pasien di poli kulit, Steven jonhson dan diagnosa keperawatan, luka bakar dan cara menentukan derajat, manajemen acne vulgaris, stroke dan penanganannya.
Langganan:
Postingan (Atom)