Minggu, 14 Maret 2010

askep GE

BAB I
PENDAHULUAN


I. Pengertian
Diare sebenarnya merupakan salah satu gejala dari penaykit pada system gastrointestinal atau penyakit lain diluar saluran pencernaan. Tetpi sekarang lebih dikenal dengan “penyakit diare” karena dengan sebutan diare akan mempercepat tindakan penanggulangan.
Menurut WHO (1984)
Diare adalah buang air besar yang tidak normal dengan perubahan kontruksi dan frekuaensi lebih dari 3x/24 jam.
Diare adalah keadaan frekuaensi buang air besar lebih dari 5 kali, konsisitensi feses encer, dapat bewarna hijau atau dapat pula bercampur lender dan darah atau lender saja.
Diare akut adalah diare yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari
Banyak penderita penyakit yang sering mengeluh karena diare, akan ada diantaranya yang keluhan utamanya adalah mencret-mencret. Kini diare merupakan suatu gejala dari suatu penyakit, dan bukan suatu penyakit tersendiri.
Pada umumnya timbulnya diare karena passage bolus makanan terlalu cepat dan tergangguanya response air dalam usus besar, sehingga sering menyebabkan berak-berak
Menurut mekanisme terjadinya :
1. Diare sekrotik
Diare sekrotik yang terjadi akibat aktifnya enzim edensil siklase.
Enzim edenil siklase selanjutnya akan mengubah ATP menjadi cAMP. Akumulasi cAMP intrasel akan menyebabkan sekresi aktif ion Cl yang akan diikuti secara positif oleh air, Na+, K dan HC03- kedalam lumen usus sehingga tejadi diare dan muntah-muntah dan penderita cepat jatuh kedalam keadaan dehidrasi.
2. Diare infasif
Diare infasif adalah diare yang akibat infasi mikroorganisme dalam mukosa usus. Diare infasif yang disebabkan oleh bakteri dan amuba menyebabkan tinja berlendir dan sering disebut dengan Dysenteriform diahea.
3. Diare osmotic
Diare osmotic adalah diare yang disebabkan kerna tingginya tekanan osmotic pada lumen usus, sehingga akan menarik cairan pada intrasel lumen usus sehingga terjadi diare berupa watery diarrhea. Paling sering terjadi diare osmotic disebabkan oleh malabsorbsi karbohidrat. Bentuk yang paling sering dari diare osmotic adalah intoleransi laktosa akibat defisiensi lactase yang dapat terjadi karena terjadi kerusakan mokus usus. Dilaporkan ± 25-30% dari diare oleh rotavirus terjadi intoleransi laktosa.
Monosakarida biasanya diabsorbsi baik oleh usus secara pasif maupun transport aktif dari ion Na+. Sedangkan disakarida harus dihidrosa dahulumenjadi monosakarida oleh sel mukosa. Bila terjadi defisiensi enzim ini maka disakarida tersebut tidak dapat diabsorbsi sehingga menimbulkan osmotic load dan terjadi diare.
Disakarida/ karbohidrat yang tidak dapat diabsorbsi tersebuta akan difermentasikan diflora usus sehingga akan terjadi asam laktat dan gas hydrogen, terjadinya gas ini terlihat pada perut penderita yang kembung (abdominal distention). pH tinja asam dan pada pemeriksaan dengan klinis terlihat positif.

II. ETIOLOGI
Sebelum decade 1970, hanya 20% dari penyebab diare akut yang bias diketahui. Saai ini denagn bertambah majunya ilmu kedokteran, telah 70-90% penyebab diare akut yang bisa diidentifikasikan.
Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Penyebab diare dapat dibagi dalam bebrapa factor :
1. Infeksi
a. Virus
Contoh : Rotavirus, Norwalk virus, Adenovirus, Astrovirus, Virus ECHO, Coxsackie, Poliumyelitis
b. Bakteri
Contoh :
1. E.Coli sp. (Enterophatogenik E.Coli, Enterotoxigenik E.Coli, Enterovasive E.Coli, Entero Hemoragic E.Coli, Entero Adheren E.Coli).
2. Shigella sp. (Shigella flexneri, Shigella Sonna, Shigella dysenteriae, Shigella boydi
3. Campylobacter yeyuni
4. Salmonella (Nontyphoidal Salmonellosis, Salmonella Parathipi)
5. Yersinia
6. Vibrio (Vibrio Cholera ELTOR, Vibrio cholera Classic)
c. Parasit
1. Protozoa (Entamoeba histolitica, Giardia lambdia, Crytosporidium, Tricomonas hominis)
2. Cacing (Ascaris, Trichuris,oxyuris, stongyloides)
3. Jamur (Candida Albicans)
2. Keracunan Makanan
Makanan mengandung zat kimia beracun
Makanan mengandung mikroorganisme yang mengeluarkan toksin (Clostridium perfringens, Staphilococus)
3. Malabsorbsi
Diare terjadi karena malabsorbsi terhadap :
 Karbohidrat
 Lemak terutama long chain triglyceride
 Protein : asam amino dan beta-laktoglobulin
4. Alergi
diare karena alergi antara lain :
Cow’s milk protein sensitive entheropathy (CMPSE)
Food allergy
5. Imunodefisiensi
Diare karena gangguan ini sering terjadi pada penderita AIDS.
6. Faktor Psikis
Rasa takut dan cemas, terlalu berat beban pikiran
Diare sekrotik sering disebabkan oleh toksik yang dihasilakn oleh mikroorganisme :
Vibrio, ATEC (labile toxin), Shigella, Clostridium, Salmonella, Campylobacter
Toxin ini merangsang enzim endenil, selanjutnya enzim tersebut akan mengubah ATP menjadi cAMP.
Diare infasif disebabkan oleh :
1. Rotavirus
Mekanisme diare oleh rotavirus berbeda dengan bakteri infasif dimana diare rotavirus tidak berdarah. Setelah rotavirus masuk kedalam digestivus bersama makanan atau minuman tentunya harus mengatasi barier asam lambung kemudian berkembang biak dan masuk kedalam bagian apical vili usus halus. Kemudian sel-sel bagian apikel tersebut akan diganti dengan sel dari bagian kripta yang belum matang/imatur berbentu kuboit atau gepeng. Karena imatur sel-sel ini tidak dapat berfungsi untuk menyerap air dan makanan sehingga terjadi gangguan absorbsi dan terjadi diare. Kemudian vili usus memendek dan kemampuan absorbsi akan bertambah terganggu lagi dan diare akan bertambah berat. Selain itu sel-sel yang imatur tidak dapat menghasilkan enzim disakaridase. Bila daerah usus halus yang kena cukup luas, maka akan terjadi difisiensi enzim disakaridase dan akan terjadi diare osmotic.
2. Bakteri : Shigella, Salmonella, Campylobacter, EIEC, Yersinia
Khusus pada shigella, setelah kuman melewati barrier asam lambung, kuman masuk kedalam usus halus dan berkembang biak sambil mengeluarkan enterotoksin. Toksin ini akan merangsang enzim endenil siklase untuk mengubah ATP menjadi cAMP sehingga akan diare sekrotik. Selanjutnya kuman ini dengan bantuan peristaltic usus sampai diusus besar/kolon. Dikolon, kuman ini bias keluar bersama tinja atau melakukan invasi kedalam mukosa kolon sehingga terjadi kerusakan mukosa berupa mikro-mikro ulkus yang disertai dengan serbuan sel-sel radang PMN dan menimbukan gejala tinja berlendir dan berdarah.
3. Parasit : Amoeba

Menurut Mansjoer, Arief, et all (1999) dibagi menjadi:
Infeksi Bakteri

Golongan Feses (seperti cucian beras)
Deras dan banyak
V. Cholerae Golongan
C. Perfrinbers Enteroinvasisive E. Coli
S. Aureus S. Paratiphy B.
Vibro Nonaglutinabel S. Thipimurnin
S. Choleraraesues
Masuk ke mukosa usus halus S. Enteriditas
Tidak merusak Shigela
C. Perfringus tipe C
Toksin
Merusak dinding usus
Sekresi aktif anion klorida (nekrosis dan ulserasi)
Ke dalam lumen usus diikuti air,
Karbohidrat, natrium, dan kalium bersifat serebrik eksudatif
Feses bercampur lendir
feses (seperti cucian beras) dan darah
Deras dan banyak

III. Patofisiologi
Masukan makanan atau minuman yang terkontaminasi

Infeksi pada mukosa usus

Makanan dan zat Menimbulkan rangsangan Menimbulkan mekanisme
Tidak dapat dihisap tertentu yaitu menimbulkan tubuh untukmengeluarkan
mekanisme tubuh untuk toksin
Tekanan osmotik dalam mengeluarkan toksin
Rongga usus meninggi
Peningkatan sekresi air Peningkatan gerakan usus
Terjadi pergeseran cairan dan elektrolit ke dalam (hiperperistaltik)
Dan elektrolit ke dalam rongga usus
Rongga mulut
Berkurangnya
Isi rongga usus yang kesempatan usus
Berlebihan akan merangsang
Usus untuk mengeluarkannya




Banyak kehilangan elektrolit dan cairan
Resiko kekurangan cairan dan elektrolit Perubahan Kenyamanan
Masukan cairan yang terkontaminasi

Infeksi pada saluran usus

Makanan dan zat tak dapat dihisap
Minimbulkan rangsangan
tertentu, yaitu menimbulkan
mekanisme tubuh untuk
mengeluarkan toksik

tekanan rongga usus meningkat peningkatan peristaltik usus

terjadinya pergeseran air
dan elektrolit ke dalam usus
peningkatan sekresi air dan
dan elektrolit ke dalam
rongga usus
isi rongga usus yang berlebihan akan
merangsang usu untuk mengeluarkanya

diare


iritasi anus kerusakan integritas kulit

Resiko kekurangan cairan dan elektrolit Gg kenyamanan

Tanda dan gejala
 Nausea
 Mual
 Nyeri pada perut
 Demam
 Diare
 Dapat menimbulkan aritmia jantung
 Kerusakan integritas kulit
 Kekurangan volume cairan (akral dingin, mukosa bibir kering, mata cowong, turgor kulit menurun)
 Renjatan hipovolemik dapat terjadi

Pemeriksaan Penunjang
• pemerisaan tinja
Diperiksa dalam dalm hal volume, warna, dan konsistensinya serta adanyamukus darah dan leukosit. Pada umumnyalekosit tidak ditemukan jika berhubungan dengan penyakit usus halus, tetapi ditemukan pada penderita salmonela, e.coli, enteronrus, dan shigelosis. Terdapatnya mucus yang berlebihan menunjukan kemungkinan adanya peradangan kolon, pH tinja yang rendah menunjukan kemungkinan adanya mal absorpsi natrium, jika kadar glukosa tinja rendah / pH kurang dari 5,5 maka penyebab diare bersifat tidak menular
• pemeriksaan darah
pemeriksaan analisis darah / elektrolit, ureum, kreatinin, dan berat jenis plasma. Penurunan pH disebabkan karena terjadi penurunan bikarbonasi sehingga frekuensi napas agak cepat. Elektrolit terutama kadar natrium, kalsium, kalium dan fosfor.

IV. Penatalaksanaan Medis
Rehidrasi sebagai priorits utama pengobatan
a) Jenis cairan
Pada diare akut yang ringan diberikan oralit, diberikan cairan RL, bila tak tersedia bisa diberikan NaCl isotonik ditambah satu ampul natrium bikerbonat 75 % 50 ml
b) Jumlah cairan
Diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan.
c) Jalan masuk atau pemberian cairan
Oral atau parenteral
d) Jadwal pemberian cairan
Rehidrasi dengan perhitungan kebutuhan cairan diberikan dua jam pertama. Selanjutnya dilakukan kembali status hidrasi untuk memperhitungkan kebutuhan cairan. Rehidrasi diharapkan terpenuhi lengkap pada akhir jam ke 3
e) Terapi simptomatik
Obat diare bersifat simtomatik dan diberikan sangat hati hati atas pertimbangan rasional. Bersifat anti motilitas dan sekresi usus, serta anti emetik.
f) Vitamin, mineral tergantung kebutuhanya
Vit B 12, asam folat, Vit K, Vit A, preparat besi, Zinc, dll.
g) Terapi definitif
Pemberian edukatif sebagai langkah pencegahan higieni perseorangan, sanitasi lingkunngan, dan imunisasi melalui vaksinasi sangat berarti selain terapi farmakologi





BAB II
PROSES KEPERAWATAN

A.Pengkajian
Pengkajian di lakukan pada hari senin,tgl 22 febuari 2010,pukul 09:30 wib.di bangsal mawar RSUD RADEN INTAN lampung.
Sumber data:pasien dan keluarga pasien
Metode pengumpulan data: wawncara,observasi,pemeriksaan fisik.
Pengkajian diambil pada tanggal : 22 Febuari 2010
Tanggal masuk : 22 Febuari 2010
Pukul : 09:15 WIB
Ruangan / kelas : Bangsal mawar RSUD RADEN INTAN
Dx Masuk : Gastro Entritis + Vomiting
Dokter penanggung jawab : dr. V

1.IDENTITAS
a). Identitas Pasien:
Nama : An. AZ
Umur : 3 tahun
Berat Badan : 15 kg
Jenis kelamin : laki laki
Agama : Islam
Suku / bangsa : Lampung/Indonisia
Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonisia
Alamat : Ds. Bumi Jaya, RT 03 RW 06 Kec.Candipuro
Biaya ditanggung oleh : Orang tua
Pendidikan :-
No RM :19987989

b). Identitas Penanggung jawab
Nama : Tn.AW
Umur : 29 Th
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Suku : Lampung/melayu
Pendidikan : SI managemen admunistrasi
Pekerjaan : Guru/Dosen
Hubungan dengan pasien : Ayah/ orang tua

2. RIWAYAT KESEHATAN
a). Keluhan utama
Ibu pasien mengatakan anaknya buang air besar sudah 4 kali dalam sehari dan BAB cair.
b). Riwayat Kesehatan Sekarang
Mulai kemarin siang berak cair agak banyak sehari 4x, masih disertai badan panas dan muntah-muntah. Tidak mau makan. Pada tanggal 22 febuari 2010 jam 09:15 WIB keluarga membawa klien ke IGD. Dalam pemeriksaan fisik Suhu tubuh agak panas 371 oC, turgor kulit agak turun, perut kembung.
c). Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien belum pernah menderita penyakit berat apapun, belum pernah masuk rumah sakit, belum pernah mengalami pembedahan, kebiasaan berobat ke mantri kesehatan, obat obatan yang biasa dikonsumsi adalah penurun panas dan sirup obat batuk, klien tidak menggunakan alat bantu apapun.
d). Riwayat Kesehatan Keluarga
Anggaota keluarga tidak ada yang menderita penyakit berat apapun , tidak ada kecenderungan penyakit keluarga, tidak ada yang menderita diare, tidak ada gangguan keturunan (DM,Hemofili), dan tak ada kecenderungan lingkungan (TB, kusta).
e). Riwayat Kesehatan Lingkungan
Ibu pasien mengatakan pasien dan keluarga pasien bertempat tinggal di lingkungan yang bersih.

3. POLA FUNGSI KESEHATAN
a). Makan dan minum
sebelum sakit:
pasien makan 3 kali sehari dengan komposisi nasi,sayur,buah-buahan dan snack.
Minum ± 1300 cc perhari.
Saat sakit:
Pasien susah untuk makan, hanya menghabiskan setengah porsi dari menu biasanya (nasi,sayur dan buah-buahan).minum ± 1000 cc perhari.
b). Eliminasi
sebelum sakit:
Klien BAB 2-3 kali perhari dengan konsistensi cair, pemenuhan dibantu, tanpa obat pencahar maupun lavemen
Klien BAK 3-4 kali perhari dengn dibantu dan tidak ada gangguan apapun.
Ketika sakit:
Klien BAB 4-5 kali sehari dengan konsistensi cair.
c). Kebersihan diri
sebelum sakit:
Klien biasanya mandi 2 kali perhari, keramas 4-5 kali perminggu, sikat gigi, potong kuku 1 kali perminggu, ganti pakaian  3 kali perhari.
Saat sakit:
Klien hanya di seka dengan air hangat oleh ibu pasien 2 kali sehari untuk tetap menjaga kebersihannya.
d). Istirahat dan aktivitas
sebelum sakit:
Klien biasa tidur malam 8 jam dan tidur siang 1-2 jam, klien beraktivitas bermain dengan teman, saudara serta ayah dan ibunya, klien tidak mengalami gangguan tidur.
Saat sakit:
Klien bisa tidur malam 8 jam namun kadang terbangun karena rewel karena rasa mual dan sakit pada perutnya serta BAB yang tidak teratur.
Pemeriksaan fisik.
1 keadaan umum:pasien tampak lemas dan pucat.
2 Kesadaran :composmentis.
Tanda –tanda vital :td :
Nadi :100x/menit
Suhu :37,1°C
Td :95/65 mmHg
RR :25x/menit
3 pemeriksaan head to toe.
a). Pemeriksaan kepala dan leher.
- Kepala:bentuk simetris,tanpa ada benjolan,rambut bersih dan hitam,wajah simetris ,tidak terjadi pembengkakan .
- Mata :bentuk simetris, mata anemis,alis bulau mata lebat,skelera putih bersih .
- Telinga :bentuk daun telinga simetris,lubang telinga bersih,pendengaran normal,.
- Hidung dan mulut tidak trismus(kesukaran emmbuka mulut)bibir kering,gusi normal.
- Leher :warna kulit sama dengan sekitarnya,tidak ada pembengkakan.
- Dada: bentuk simetris pernafasan redup/pekak.,bunyi jantung 3 gallop.asi sudah tidak keluar,putting susu menonjol.
Auskultasi:vesikuler.
- Abdoment:
Auskultasi
Suara usus normal 3-35 */menit
Inspeksi:
Bentuk simetris, tidak terdapat luka, ,dinding perut tidak tegang.
Perkusi:
Tidak terdapat asites
Palpasi:
Tidak ada nyeri tekan,tidak terdapat masa.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1. Diare b.d fisiologis (iritasi, parasit) dan psikologis (tingkat stress, cemas yang tinggi).
Tujuan : Diare dapat diatasi/berkurang
Kriteria Hasil :
1. Menggambarkan factor-faktor yang mempengaruhi jika mengetahuinya
2. Menjelaskan rasional dari intervensi
3. Melaporkan diare berkurang
Intervensi :
1. Tentukan bila ada impaksi : bila demikian, keluarkan ( rujuk pada konstipasi untuk intervensi khusus ).
2. Pantau dengan ketat terhadap hipovolemia dan ketidakseimbangan elektrolit ( kalium dan natrium ).
2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan sekunder terhadap muntah dan diare.
Tujuan: kebutuhan cairan adekuat.
Kriteria hasil:
1. Menaikkan masukan cairan minimal 2000ml (kecuali bila merupakan kontraindikasi).
2. Menceritakan perlunya untuk menaikkan cairan selama stres atau panas.
3. Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal (1,010 dan 1,025).
4. Mempertahankan tidak adnya tanda dan gejala dehidrasi
Intervensi :
a. Rencanakan tujuan masukan cairan untuk setiap pergantian (misalnya 1000ml selama siang hari, 800ml selam sore hari, dan 300ml selama malam hari).
R: deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk mempebaiki defisit cairan.
b. Jelaskan tentang alas an untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat dan metode. Metode untuk mencapai tujuan masukan cairan.
R: informasi yang jelas akan meningkatkan kerjasama untuk terapi.
c. Pantau masukan, pastikan sedikitnya 1500ml cairan peroral setiap 24jam.
R: catatan masukan membantu mendeteksi tanda dini ketidakseimbangan cairan.
d. Pantau keluaran, pastikan sedikitnya 1000-1500ml ml per 24jam. Pantau terhadap penurunan berat jenis urine.
R: catatan keluaran membantu mendeteksi dini ketidak seimbangan cairan.
e. Timbang BB setiap hari dengan jenis baju sama, pada waktu yang sama. Kehilangan BB 2-4% menunjukkan dehidrasi ringan, kehilangan 5-9% menunjukkan dehidrasi sedang.
R: penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilangan cairan.
f. Pertimbangan kehilangan cairan tambahan berhubungan dengan muntah, diare, demam, dan drain.
R: haluaran dapat melebihi masukan yang tidak kasat mata. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glumerulus, membuat haluaran tidak adekuat untuk membersihkan sisa metaolisme dengan baik dan mengarahkan pada penarikan kadar elektrolit.
g. Kolaborasi dengan dokter untuk memeriksa kadar elektrolit darah, nitrogen uri darah, urine dan serum, osmolalitas, keratin, hematokrit, dan hemoglobin.
R: populasi feses yang cepat melalui usus mengurangi absorbsi elektrolit, yang juga dapat diakibatkan dari banyaknya frekuensi muntah.
h. Kolaborasi dengan pemberian cairan secara IV.
R: memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit.

3. Nyeri akut b.d agen cidera fisik : inflamasi dan spasme otot polos sekunder
Tujuan: klien merasa nyaman atau nyeri berkurang.
Kriteria hasil:
1. Klien akan melaporkan penurunan kram abdomen.
2. Klien akan menyebutkan makanan yang harus dihindari.
Intervensi keperawatan:
a. Dorong klien untuk berbaring dalam posisi terlentang dengan bantalan penghangat di atas abdomen.
R: tindakan ini meningkatkan relaksasi otot-otot gastrointestinal dan mengurangi kram.
b. Singkirkan pemandangan yang tidak menyenangkan atau bau tidak sedap dari lingkungan klien.
R: pemandangan yang tidak menyenangkan atau bau tidak sedap merangsang pusat muntah
c. Dorong masukan dalam jumlah kecil dan sering dari cairan jernih (missal: the encer, air jahe, agar-agar, air) 30-60ml tiap 0,5-1jam. R: cairan dalam jumlah yang kecil, cairan tidak akan mendesak area gastrik dengan demikian tidak memperberat gejala.
d. Intruksikan klien untuk menghindari makanan yang terlalu panas atau dingin, makanan dengan kandungan serat dan lemak tinggi, kafein.
R: cairan yang dingin merangsang kram, cairan yang panas merangsang peristaltic, lemak dapat meningkatkan peristaltic, dan kafein meningkatkan motilitas usus.
e. Lindungi area perianal dari iritasi.
R: sering BAB dengan keasaman dapat mengiritasi kulit perianal.
4. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik b.d kurangnya pengetahuan dengan kondisi, pembatas diet, dan tanda-tanda serta gejala komplikasi.
Tujuan: pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diet, dan tanda-tanda serta gejala komplikasi adekuat.
Kriteria hasil: klien dapat menjelaskan kembali kepada perawat setelah mendapat penjelasan dari perawat.
Intervensi keperawatan:
a. Jelaskan pembatasan diet, meliputi; makanan tinggi serat (sekam dan buah segar), makanan tinggi lemak (susu dan makanan goreng), dan air yang terlalu panas atau dingin.
R: jenis makanan tersebut dapat memperparah kondisi yang dimiliki.
b. Jelaskan pentingnya mempertahankan keseimbangan antara masukan cairan oral dan haluaran cairan.
R: muntah dan diare dapat cepet menyebabkan dehidrasi.
c. Jelaskan manfaat istirahat dan dorong untuk istirahat adekuat.
R: inaktiftas menurunkan peristaltic dan memungkinkan saluran gastroistestinal untuk beristirahat.
d. Intruksikan untuk mencuci tangan dan:
1) Desinfeksi area permukaan dengan desinfektan yang mengandung tinggi alkohol.
2) Rendam peralatan makan dan termometer dalam larutan alkohol atau gunakan alat pencuci piring untuk peralatan makan.
3) Tidak menijinkan menggunakan alat-alat dengan orang sakit.
R: penyebaran virus dapat dikontrol dengan desinfeksi dengan cairan alkohol rendah tak efektif melawan beberapa jenis virus.
e. Ajarkan klien dan keluarga melaporkan gejala seperti urine cokelat gelap menetap selama lebih dari 12jam, feses berdarah, deteksi dini dan pelaporan tanda dehidrasi memungkinkan intervensi segera untuk mencegah ketidak seimbangan cairan atau elektrolit serius. R: untuk menghindari komplikasi yang lebih buruk.

Nama : Lisa kurniawati
Nim : 04071583
Kls :A/KP/VI

DAFTAR PUSTAKA

• Lynda Juall Carpenito, 2000. Diagnosa Keperawatan edisi 8. EGC : Jakarta
• Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. FK UI : Jakarta
• A. Price Sylvia, Lorraine M. Wilson, Patofisiologi
• Lynda Juall Carpenito, 2000. Diagnosa Keperawatan edisi 8. EGC : Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar